Berteduh di Bedeng

Berteduh di Bedeng

Kumandang Adzan Ashar sayup-sayup terdengar oleh Jaka . Ia masih berada di tengah persawahan sambil berjalan kecil melihat kedua sapi gembalanya.

Gemuruh angin terasa begitu kencang oleh Jaka. Matanya yang sedikit sayu beberapa kali harus ditutupi tangan kanannya. Karena rumput-rumput kecil di sawah terbawa angin hingga beberapa kali mengenai wajah Jaka.

Sementara, langit mulai gelap namun belum ada petir. Dari kejauhan Jaka melihat banyak ibu-ibu memakai tudung caping berjalan cepat menuju kampung, meninggalkan sawah.

“Sepertinya akan segera turun hujan,” lirih Jaka.

Kilat pertama sudah terlihat menyeringai, mengagetkan Jaka. Ia langsung beranjak menuju salah satu Bedeng, sebuah gubug kecil di tengah sawah.

Hujan pun seketika turun, byur byur byur deras disertai Guntur. Amanlah Jaka. Tapi, dua sapi gembalaannya meski dibawa ke Bedeng namun tetap terguyur hujan.

Ya. Jangan dikira Bedeng ini sebuah rumah besar yang memiliki halaman luas. Tidak ada halaman besar, di bagian luar hanya ada sebuah ranjang bale. Ukurannya pun hanya sekitar 3x2 meter.

Di bagian dalam hanya ada ranjang tidur dari bambu, tidak ada dapur, tidak ada toilet, tidak ada sekat pemisah. Hanya satu ruang melompong saja.

Dengan meminta izin ke Mang Sodik pemilik Bedeng, Jaka dipersilahkan masuk. Dua sapinya di ikat di luar Bedeng.

Tak ada perbincangan serius. Sama-sama saling diam. Jaka duduk di ranjang sembari menyilangkan kedua tangannya. Mang Sodik yang tak memakai baju sibuk menghisap rokok kreteknya.

Hujan semakin deras. Bulir kecil air dan hembusan angin masuk ke dalam Bedeng. Sementara punggung Jaka makin merunduk seperti kedinginan.  Kepala Jaka turut menunduk  dengan mata menatap kedua tangan yang dirapatkan ke perut.

Maklum Bedeng tersebut hanya berdindingkan kayu dan triplek bekas yang dipaku. Sedang atapnya bukan genteng tanah atau atap modern. Hanya memakai triplek tebal yang dilapisi oleh terpal warna biru. Itupun terpalnya hanya diikat dengan tali-tali tambang.

Mang Sodik tiba-tiba beranjak. Mengambil sarung lalu menyorenkan ke bahunya sambil berjalan menuju ke bagian pojok Bedeng yang ada sebuah meja kecil. Mengeluarkan air termos yang tak terlalu hangat. Jaka diberi segelas air minum oleh Mang Sodik. “Minum jang,” tawarnya.

Butuh lima tegukan bagi Jaka untuk menghabis segelas air hangat itu. “Nuhun mang,” ucap Jaka sambil menaruh gelas di ranjang tempatnya duduk.

Share this Post:
Twitter Facebook Google+