Pasar Tradisional, Akankah Menjadi Sebuah Miniatur Sejarah?

Pasar Tradisional, Akankah Menjadi Sebuah Miniatur Sejarah?

Blog Single

Ilustrasi Pasar Tradisional (foto: frentis)

Becek. Bau. Pengap. Semrawut. Kumuh. Itu sudah menjadi hal yang biasa ketika kita memasuki pasar tradisonal. Inilah stigma yang sering muncul mengenai pasar tradisonal.

Tapi, kenyataanya hingga saat ini pasar tradisonal masih menjadi primadona mayoritas masyarakat Indonesia. Kenyataannya bahwa pasar tradisonal tidak pernah sepi pengunjung dan penjual.

Sejarah perkembangan pasar di Indonesia, seperti dikutip dari  Indonesian Heritage, Ancient History (1996),  bahwa pasar tradisional telah lahir dalam abad 10. Secara formal tercatat dalam prasasti masa kerajaan Mpu Sindok dengan istilah "Pkan".

Pasar tradisional dalam awal-awal keberadaannya memiliki peranan penting dalam perkembangan wilayah dan terbentuknya kota. Sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat, pasar tradisional telah mendorong tumbuhnya pemukiman-pemukiman dan aktivitas sosial-ekonomi lainnya di sekitar pasar tersebut. Pada tahap selanjutnya berkembang menjadi pusat pemerintahan.

Jasa besar pasar tradisional (tentunya dengan pelaku-pelaku di dalam pasar tersebut), hampir tidak terbantahkan terutama jika kita lihat sejarah berdirinya hampir seluruh kota di Indonesia.

Dari perjalanan sejarah pasar Indonesia, kita harus mengamini bahwa pasar tradisonal adalah benih dari berkembangnya kemajuan peradaban manusia dalam pembangunan ekonomi. Atau lebih tepatnya pasar tradisonal berperan penting sebagai pusat perekonomian masyarakat Indonesia. 

Kenyataan hari ini di setiap pasar tradisional, betapa dengan mudahnya kita menemukan sebuah hukum ekonomi permintaan dan penawaran masih berjalan secara alami. Nilai-nilai ke-Indonesia-an sesuai Pancasila masih bertahan. Keberagaman suku, persatuan Indonesia, dan bentuk musyawarah dalam kesepakatan harga barang masih bertahan di pasar taradisonal hingga saat ini.

Ironisnya, kini pasar tradisonal dengan dalih revitalisasi diambang "genoshida". Meminjam  catatan DPP IKAPPI, pada tahun 2015 saja telah terjadi 283 kasus kebakaran diseluruh Indonesia. Ini merupakan kejadian kebakaran pasar terbanyak dalam sejarah Indonesia.

Mungkinkah ini sebuah kesengajaan demi menumbuhsuburkan pasar - pasar swalayan, departement store, mal, dsb? Entahlah. Namun yang tidak bisa dibantah adalah kebakaran yang sering terjadi belakangan ini adalah bukti kurangnya perhatian Pemerintah Daerah (Pemda) terhadap pasar tradisonal.

Bagaimana tidak saya katakan Pemda kurang perhatian terhadap pasar tradisonal? Berkembangnya pasar-pasar modern yang terus menjamur tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas pengelolaan pasar tradisonal.

Kenyataan lainnnya, sekarang pasar tradisonal bukan lagi dikelola sepenuhnya oleh pemerintah sebagai sumber perekonomian masyarakat. Namun kini kebanyakan pasar tradisonal sudah di kelola oleh pihak swasta sebagai ruang bisnis, bukan sebagai sumber pendapatan daerah.

Kita tidak bisa menutup mata, bahwa derasnya roda perputaran uang yang masuk di setiap pasar tradisonal sangat cepat dan terus bergerak tanpa henti, bahkan 24 jam terus beputar dengan aktif. Hal ini tentu menggiurkan bagi para pemodal untuk mengambil keuntungan pribadi.

Peraturan Daerah sebagai payung hukum pun justru diindikasikan menyusuburkan minimarket-minimarket yang sudah sampai pada tataran desa. Mengajarkan masayarakat berpikir instan dan memutus rantai generasi untuk mengenal pasar tradisonal. Para anak-anak dan pemuda tidak lagi berpikir untuk pergi ke pasar tradisonal karena di desanya sudah ada minimarket yang bersih, modern, dan dingin. Plus ramah senyum serta harga yang tidak jauh berbeda.


Ini menjadi ancaman bagi pola berpikir generasi kedepan, khusunya dalam ekonomi sosial. Dimana, ada perbedaan signifikan adalah pada pasar tradisonal. Kita dapat merasakan hukum pasar sesungguhnya yaitu persaingan bebas sempurna, dimana harga terjadi atas dasar persetujuan/mufakat antara penjual dan pembeli. Jadi pembeli dapat merasakan sebuah "penawaran dan permintaan".

Namun ketika generasi penerus terus dihadapkan pada sistem pasar ala minimarket, maka tidak menutup kemungkinan budaya konsumtif dan monopoli akan menjadi budaya Indonesia kedepan. Karena di minimarket, swalayan dan mal kita tidak merasakan sebuah proses penawaran dan kesapakatan harga. Namun semua harga yang ada sudah menjadi ketentuan yang ditentukan oleh penjual

Semua itu menjadi  ancaman hilangnya nilai-nilai Pancasila kedepan dalam sosial ekonomi masyarakat Indonesia kedepan. Sehingga tidak menutup kemungkinan rendahnya kemauan untuk peduli terhadap pasar tradisional mengancam hilangnya pasar tradisonal dari bumi Indonesia kelak.

Semoga pemerintah Indonesia, khususnya Pemda Bekasi mampu menjadikan pasar tradisional sebagai ruang ekonomi daerah, dalam mengukur ketahanan ekonomi Indonesia di tengah arus globalisasi yang kian terasa kencang saat ini.

Bukan lagi lepas tangan dengan menyerahkan pasar tradisonal kepada pemodal sebagai pengelola. Atau meligitimasi minimarket, swalayan dan mal sebagai lawan dari pasar tradisional. Sehingga karena kebijakan pemerintah yang pro pemodal, masa depan ekonomi Indonesia kelak menghapuskan nilai-nilai Pancasila yang kini masih terjaga dalam mekanisme pasar tradisonal. 

Tidak menutup kemungkinan, kelak anak cucu kita menikmati pasar tradisonal hanya sebagai miniatur yang disaksikan di setip museum-museum daerah sebagi perjalanan sejarah Indonesia. (*)

Penulis adalah Mahasiswa Unisma Bekasi

Share this Post:
Twitter Facebook Google+