Teror Kelompok Agama Vs Teror Korporasi

Teror Kelompok Agama Vs Teror Korporasi

Blog Single

Cause Facebook Pray for Paris

Sekagaknya ada tiga kategori pesbuker yang ganti pepe pake cause pray for paris. Kategori pertama emang concern sama isu itu. Kategori kedua sekedar ikut-ikutan alias melu bae. 

Nah, yang kategori terakhir menarik nih. Alasannya karena pepe mereka jadi keren. Emang jadi keren juga sih tuh pepe, ditutupin gambar transparan merah putih biru. Jadi rada blur gitu. Bagian jerawatnya jadi samar.

Ga pake lama. Nongol gerakan tandingan. Mereka pasang pepe pake gambar transparan bendera Palestina. Bedanya, gerakan pertama udah disiapin pesbuk, jadi lebih gampang. Yang tandingan ini musti edit sendiri pepenya. Niat!

Ga berhenti sampe disitu. Nongol lagi gerakan pake pepe transparan bendera Indonesia. Yang ini sama kaya yang kedua. Butuh upaya. Kudu edit sendiri pepenya.

Jadi ada tiga deh. Coba tambah satu lagi, pasti dapet piring cantik. 

Tapi ketiganya punya dasar sama kuatnya. Semua dilatari realitas obyektif. Kenyataannya emang ada.

Kita ga bisa abaikan tewasnya seratus lebih orang dalam serangan di Paris. Apapun alasannya, ga bisa jadi pembenaran serangan itu.

Kita juga ga bisa mengabaikan kekecewaan kelompok pray for palestine. Karena realitasnya, berpuluh tahun, hingga hari ini rakyat Palestina dibantai. 

Gerakan pepe bendera Indonesia dilatari isu kabut asap. Ini juga ga bisa kita abaikan. Menurut BNPB, ada 10 orang meninggal, lebih dari setengah juta orang menderita infeksi saluran pernapasan akut alias ISPA, dan 43 juta orang terpapar asap. Plus 2 juta hutan dan lahan habis terbakar. 

Kegelisahan para pesbuker yang bikin gerakan tandingan adalah perlakuan yang berbeda terhadap ketiga isu. Tapi itu juga ga bisa menyalahkan pesbuker yang ganti pepe pake bendera Perancis. Karena emang pesbuk yang bikin, jadi lebih gampang. Pesbuklah biang keroknya.

Di luar itu, saya rada yakin kalau sebagian besar pesbuker, termasuk yang bikin gerakan tandingan, punya rasa simpati pada korban di Paris. Tapi kesenjangan perlakuan pesbuk ini yang bikin galau.

Isu teroris emang udah jadi agenda hampir semua Negara, termasuk Indonesia. Tapi definisi dan peristiwa macam apa yang disebut teroris, ini yang kabur alias ora danta.

Hari ini, istilah teroris melekat pada serangan yang dilakukan kelompok agama tertentu, terutama yang mengatasnamakan Islam. Uniknya, hanya definisi teroris itu yang disuguhkan pada kita sejauh ini. Mau bukti?

Kita lihat kejahatan korporasi yang membakar hutan. Lembaga apa yang diturunkan? Badan Nasional Penanggulangan Bencana alias BNPB. Terus isu apa yang ditangani oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme alias BNPT? Jawab sendiri deh.

Bagi saya, teroris yang atasnamakan agama harus ditumpas. Tapi teroris korporasi yang membakar hutan juga harus diperlakukan sama. Harus ditumpas.

Istilah 'bencana' yang dilekatkan pada kasus kabut asap kagak tepat. Bencana harusnya dilekatkan pada peristiwa yang tidak disengaja alias faktor alam. Kabut asap lebih cocok disebut teror karena unsur kesengajaan dan udah jadi peristiwa berulang. 

Ini persis kaya isu lumpur Lapindo. Isunya digeser dari 'kesalahan korporasi' jadi 'bencana'. Istilahnya juga diubah dari lumpur lapindo jadi lumpur sidoarjo. Karena 'bencana', akhirnya duit rakyat (APBN) juga ikut dipake buat memulihkannya. Ah!

Padahal, dalam wujud apapun, teror tetaplah teror! Tapi entahlah, kejahatan teror asap mungkin bakal menguap dan menghilang begitu saja kaya asap. Karena konon para petinggi korporasi itu juga adalah para petinggi negeri ini. 

Turut berduka untuk seluruh korban teroris kelompok agama dan teroris korporasi. 

Share this Post:
Twitter Facebook Google+