Sialnya Buruh

Sialnya Buruh

Blog Single

Ilustrasi bullying (Pixabay)

"Ngapain sih nih buruh pada demo, bikin macet aja. Ga guna banget!"
"Telat deh gue belanja, dasar buruh sialan!"
"Aje gile nih buruh, telat ketemu klien deh eike!"
"Buruh Bekasi ditangkep polisi, sukurin luh!'

Twit atau status semacam itu biasanya diikuti oleh sekian tanda seru dan emotikon marah. Tak lupa hestek: #hadeuuuuh. Yoi banget pokoknya.

Jika saja para pengusaha kelas paus melihat dirinya sederajat dengan para pengguna medsos, niscaya twit semacam itu segera diritwitnya. Status pesbuk senada itu segera dilaik dan diser. Sayangnya itu ga mungkin, mereka ga pernah melihat dirinya sederajat dengan para pengicau medsos.

Tapi tenang aja. Walaupun mereka ga laik atau ritwit, dijamin mereka pasti tahu. Mereka juga pasti suka twit dan status semacam itu. Mereka pasti dapet laporan dari tim jongos medsosnya.

“Bos, buruh yang pada demo dibuli sama para pengguna medsos tuh,” kata si jongos. “Bagus, pantau terus,” kata si bos yang lagi berlibur di pulau-pulau nan indah bersama selir-selirnya. Dia tutup teleponnya, lalu angkat gelas wainnya sambil lanjut berendem di betab yang super mewah. Tosss! Mereka hepi.

Sementara di belahan bumi belah mari, si buruh panas-panasan jalan kaki menuntut upah layak. Sialnya, sambil dibuli di medsos. Ah, sial bener dah!

Manusia memang tak luput dari sifat lupa dan alfamart. Eh alfa aja. Mungkin yang bikin twit atau status semacam itu lagi lupa dan alfa.

Tapi ya mungkin memang begitu nasib buruh. Buruh itu emang paling enak dibuli. Gurih. Segurih nasi kebuli. Empuk. Serupa bakpao ayam di pinggir jalan Kemang Pratama itu. Ga ada durinya. Blem, sikat sampai tuntas.

Macet itu lebih seksi dikategorikan akibat buruh dari pada gagalnya sistem.

Coba hitung! Hitungan sederhana, seperti lagu ciptaan Herry SS. Yang itu loh: satu ditambah satu sama dengan dua, dst. Lagunya asik. Nadanya itu kriuk, garing, atau gampang dicerna. Istilah kerennya easy listening. Inget dong lagunya?

Sekarang mari belajar berhitung!

Kira-kira, berapa hari dalam setahun buruh bikin macet jalanan? 10 hari? 20 hari? 30 hari?

Lalu, berapa hari dalam setahun kemacetan terjadi akibat gagalnya sistem pembatasan kendaraan yang disukai para pengusaha produsen mobil itu? Berapa hari dalam setahun? Setiap hari? Iya sih, tapi tetep aja buruh lebih seksi dijadiin kambing hitam. So sexy! Sial bener dah!

“Okelah itu bener, tapi apa gunanya sih buruh itu demo-demo segala? Ga penting banget! Ga guna juga buat gue!” kata kang buli buruh.

Bra-bro, perhatikan baik-baik. Bayangkan anda sedang tidur lelap. Ketika pundak anda ditepuk anda akan merasa… stop! Kembali ke tengtop!

Sekarang mari belajar bertanya. Pernah ga, perusahaan sekonyong-konyong berbaik hati naikan gaji pekerja? Ah, mulia sekali perusahaan semacam itu. Sampeyan tau dong hukum ekonomi yang dianut para pengusaha kelas paus itu. Kalau bisa, mereka pekerjakan sampeyan 24 jam per hari tanpa memberi upah. Sayangnya si buruh sekarang sudah berani berdemo.

Tapi ya tetep aja. Boy will be boy. Pengusaha tetep pengusaha. Mereka terus nyari akal biar bisa bayar sampeyan murah. Pake skenario rugi lah, itu lah, ini lah. Segambreng alesannya. Dan mereka cuma mau negosiasi naikin upah itu kalau buruh sudah blokir jalanan atau mogok kerja.

“Iya tapi apa korelasinya sama gue yang kerja kantoran?” tanya si kang buli peang itu.

Bra-bro. Sampeyan tau dong, kalau gaji sampeyan yang kerja dikantoran itu juga basis hitungannya apa? UMP/UMR/UMK! Artinya, tinggi rendahnya gaji sampeyan juga perhitungan dasarnya itu nilai UMP/UMR/UMK. Itu loh yang diperjuangkan pengusaha, eh buruh.

Kita lihat yang lainnya. Cuti hamil, jaminan kesehatan, dan tunjangan. Apakah urusan kesejahteraan pekerja semacam itu pemberian perusahaan yang baik hati itu? Bukan bra-bro. Itu hasil kerja keras kaum buruh yang rela panas-panasan dan ambil resiko dihajar petugas, atau lebih apesnya lagi ditahan. Terus sekarang harus tambah resikonya: dibuli sama sampeyan.

Buat para pedagang. Dagangan sampeyan itu bisa laku kalau ada kemampuan konsumen sampeyan untuk beli. Kemampuan konsumen sampeyan beli itu tergantung dari pendapatannya. Kalau pendapatannya rendah, ya mana bisa mereka beli dagangan sampeyan. Kecuali market sampeyan kelas atas yang duitnya ga abis tujuh turunan. Lah, terus yang perjuangkan pendapatan konsumen sampeyan naik itu siapa? Buruh yan!

Eh ada yang nyeletuk: “Ya kan sekarang kita lagi krisis ekonomi. Pemerintah juga lagi sulit. Sabar lah biar kepercayan investor naik.”

Loh, yang bikin investor ga percaya itu kaum buruh atau kegaduhan politik yang dibikin elit-elit itu? Terus, kenapa jadi buruh yang dikorbanin?

Ada lagi yang lebih cihuy. “Ini buruh bikin macet aja. Coba kalau manusia sebanyak itu ikut mademin kebakaran hutan, pasti cepet selesai,” katanya.

Ah, ini sih udah kebangetan. Ora danta. Yang bikin kebakaran itu siapa? Tuh perusahaan baik hati. Perusahaan yang mulia yang kasih cuti dan gaji gede dengan sukarela. Para pengusaha kelas paus yang sekarang lagi indehoy sama selir-selirnya di pulau-pulau nan indah, seperti maldip itu loh. Eh! Plis deh ah. Kenapa jadi buruh yang disuruh mademin tuh api?

Bra-bro, aktivis buruh itu ga punya waktu buat bales twit sampeyan-sampeyan yang buli mereka. Mereka juga ga punya tim nasi bungkus atau semacam jasmep yang akan bela mati-matian di media sosial.

Dan bra-bro. Mereka juga ga dikasih ruang sama media-media milik konglo itu buat jelasin  apa yang diperjuangkannya.

Tapi apa mereka bakal berhenti cuma karena keterbatasan dan bulian itu?

Ga bra-bro. Mereka lebih milih dibuli daripada dikibuli penguasa dan pengusaha rakus. Demi kesejahteraan mereka, keluarga mereka, dan sampeyan-sampeyan yang cutinya, upahnya, dan pemasukannya bergantung pada gerakan buruh. Terima kasih pengusaha! Eh! Terima kasih buruh! Semoga kesialan kalian segera berakhir!

Share this Post:
Twitter Facebook Google+