Telor Ceplok dan Sumpah Pemuda

Telor Ceplok dan Sumpah Pemuda

Penulis: Dimas Aditya

Telur Ceplok (Pixabay)

Sudahkah anda sarapan pagi iniiiiiiiiiiiiii?
Saya sudah dua kali. Anda?
Tet terotet tet tet.
Telor ceplok, ceploknya telor
 

Lupakan hayalan iklan telor ceplok itu. Karena emang bukan itu yang bakal dibahas. Eh, tapi kalau bener ada, kira-kira siapa bintang iklannya yang cocok? Jupe?
Het, kalau modelnya Jupe mah saya bukan mau makan telor, tapi mau mandiin telor.
Hush! Gimana kalau Regina dan Farhat Abas?
Buseng dah. Next bro!
Kalau Pevita?
Ehm, yang anak Bekasi itu kan?
Yoi!
Yang aduhai prikitiw itu kan?
Yooooi!
Bungkus bro!

Stop! Kembali ke 'tengtop'!

Tapi nih ya, kalau ngomongin Farhat Abas, saya agak yakin kaum media sosial yang bersepakat merger atau bikin konsorsium kelompok haters bakal lebih dominan. Danta itu mah ya.

Kalau Pak Jokowi? Nah, ini menarik nih. Kalau objek gosipnya yang ini, kaum media sosial jadi semacam amoeba. Segera membelah diri jadi dikotomi lovers dan haters. Proporsinya bisa pipti-pipti lah. Temlen pun segera berubah rasa. Rasa gurih-gurih nyosss. Eh, Rasa Pilpres.

Saya rada trauma kalau inget masa Pilpres lalu. Ada beberapa temen pesbuk yang anpren saya. Mereka semacam ga sudi lagi berteman cuma karena beda pilihan. Tapi ya memang begitu lah. Ngucapin kalimat "perbedaan itu indah" mudah banget. Mungkin semudah membalik telor goreng. Tinggal balik, beres.

Tapi, seringkali dalam realitasnya kita ga siap berbeda. Dalam konteks goreng telor, bisa gosong sebelah tuh. Wangi telor goreng pun berubah jadi bau angus. Sebau hubungan pertemanan yang gosong cuma karena ga siap berbeda. Kemaknyusan protein si telor juga hilang. Serupa indahnya keragaman yang luntur cuma karena ga sanggup beda pendapat.

Tapi ada lagi yang lebih ngeri (ga pake sedap). Penggunaan kata-kata  toleran, plural, dan saudara-saudaranya. Kata penuh makna nan luhur itu nyatanya sering digunakan sebagai alat untuk memojokan, bahkan menghujat pihak yang berbeda. "Ga toleran lu. Males gue sama lu," kira-kira begitu poinnya. Apa yang ganjel dalam kalimat itu? Eh, maksudnya ganjil.

Saya ulang. Kira-kira begini dialognya.

"Ga toleran lu. Lu tuh harus belajar menghargai perbedaan dong. Jangan apa-apa marah sama orang yang beda pendirian. Mereka kan punya hak juga sama kaya lu. Ga asik lu," kata yang ngaku toleran itu. Lawan bicaranya nyengir. "Trus kenapa lu marah-marah sama gue karena beda pendapat sama lu. Ga toleran juga dong lu," celetuknya. Jleb. Nyari kata selain jleb buat menggambarkan kondisi itu susah betul. :)

Poinnya, bagaimana mungkin kita mengagungkan perbedaan, ketika pada saat yang sama kita sedang menghujat yang berbeda dengan kita.

Menakjubkannya, fenomena semacam itu seketika jadi sindrom. Sedikit-sedikit intoleran, sedikit-sedikit ga plural. Istilah-istilah keren itu jadi ajimat maha sakti bagi yang menguasainya. Semacam legitimasi untuk menghukum siapapun yang berseberangan.

Hebatnya, kekonyolannya ga berhenti di situ. Muncul hobi, yang kemudian seperti wajib jadi hobi semua orang. MENGAGUNGKAN BANGSA BARAT. "Ga toleran lu. Indonesia banget sih lu". Kalau denger atau baca yang seperti itu, rasanya semua penghuni Taman Safari pada mau lompat dari mulut.

Mungkin 28 Oktober tak akan jadi bersejarah jika pemuda Indonesia hari itu fokus pada perbedaan, alih-alih persamaan. Sumpah Pemuda jadi salah satu bukti bahwa perbedaan tak jadi penghalang dalam mewujudkan persatuan. Momen semacam itu adalah momen greget yang membuktikan toleransi bisa bekerja melampui dirinya sebagai kata. Terima kasih para pemuda tempo doeloe.

Mungkin tulisan ini juga bisa dipandang berbeda. Bahkan bisa jadi dianggap sebagai bentuk intoleran jika toleransi dipandang sekecil biji telor. Tapi ora apa-apa, yang penting kita tetap pren.

Lalu apa hubungannya Sumpah Pemuda dan telor ceplok. Ga ada. Pertimbangan buat judul tulisan ini cuma didasarkan pada tingkat kekeceannya. Yang penting kita tetap pren. Tossss!

Twitter Facebook Google+

Ngopinih Terpopuler