Ini Sikap Komunitas Budaya Bekasi Soal Curug Parigi

Ini Sikap Komunitas Budaya Bekasi Soal Curug Parigi

Paguyuban Pemangku Seni Budaya Bekasi (Pangsi) di Curug Parigi (14/10)

Sabekasi.com, Bantar Gebang – Kondisi Curug Parigi yang kurang mendapat perhatian pemerintah mengundang reaksi dari komunitas pegiat budaya di Bekasi. Siang ini (14/10), para pegiat budaya dari Paguyuban Pemangku Seni Budaya Bekasi (Pangsi) dan Gading Muda Pengasinan kembali mengujungi curug yang terletak di Bantar Gebang ini.

Ketua Pangsi Drahim Sada mengatakan, Curug Parigi merupakan potensi wisata alam yang luar biasa. “Ini bisa jadi alternatif wisata keluarga di akhir pekan, ga perlu jauh-jauh ke luar kota untuk menikmati alam” ujarnya. Selain itu, Drahim melihat ada potensi ekonomi warga yang bisa dikembangkan, seperti berjualan makanan dan minuman bagi pengunjung.

Namun Drahim menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap potensi wisata dan ekonomi warga di Curug Parigi ini. Ia juga menyinggung soal ketakutan warga yang akses jalannya akan ditutup karena rencana pembangunan pabrik. Selain akses jalan yang akan mengisolasi warga, pembangunan pabrik ini juga secara otomatis akan menutup akses publik ke Curug Parigi.

Padahal menurut Drahim, Undang-undang tentang pertanahan sekarang sudah mengatur bahwa perusahaan ataupun pengembang tidak boleh menutup akses publik atau warga. “Itu kan jalan umum, masa mau ditutup,” kata pria asal Gabus itu.

Senada dengan Drahim, Deni Djiung menyatakan keprihatinannya melihat kondisi Curug Parigi sekarang. “Curug Parigi ini punya nilai sejarah yang panjang, makanya sudah seharusnya dilestarikan, jangan ditelantarkan begini” ujar pegiat budaya dan silat Bekasi ini.

Djiung menjelaskan, selain keindahan alam, konteks sejarah merupakan keunggulan Curug Parigi yang akan menjadi daya tarik bagi para pengunjung. “Selain ada tugu kecil yang disinyalir sebagai peninggalan masa lalu, Curug Parigi yang berada di Kali Bekasi ini kemungkinan ada kaitannya dengan masa-masa Kerajaan Tarumanagara,” tutur Djiung. Karenanya, ia melanjutkan, penyelamatan Curug Parigi menjadi semakin penting yang harus diikuti oleh upaya menelusuri dan menggali sejarahnya.

Saat ditanya apa langkah yang akan ditempuh untuk menyelamatkan Curug Parigi, Drahim dan Djiung sepakat untuk segera melakukan konsolidasi dengan warga dan Pemerintah Kota Bekasi, serta menggelar kegiatan-kegiatan budaya di sana. “Ya, mudah-mudahan segera ada respon dari Pemkot lah, jika tidak, kami akan menempuh jalur lain untuk menyelamatkan Curug Parigi ini,” tegas keduanya. (rd-15)

Twitter Facebook Google+

Berita Lainnya