K.H. Abid Marzuki: Sobat Tande sebagai Khasanah Sosial Warga Bekasi (2)

K.H. Abid Marzuki: Sobat Tande sebagai Khasanah Sosial Warga Bekasi (2)

K.H. Abid Marzuki

Sabekasi.com, Babelan - Khasanah sosial warga Bekasi, Sobat Tande, memiliki benefit sosial luar biasa. Tidak hanya dalam membangun harmoni sosial antara warga pribumi, tetapi juga dengan non pribumi.

Baca: K.H. Abid Marzuki: Sobat Tande sebagai Khasanah Sosial Warga Bekasi (1)

K.H. Abid Marzuki menuturkan bagaimana khasanah sosial ini juga terjadi antara warga pribumi dengan non pribumi. Ia mencontohkan harmoni sosial Sobat Tande antara keluarga K.H. Noer Ali dengan warga keturunan Tionghoa. 

Tahun 30-an, K.H. Noer Ali (saat itu berusia 18 tahun) ingin sekolah ke Mekkah. Sementara orang tuanya petani. "Saat itu Kong H. Anwar, Ayah K.H. Noer Ali, tidak punya uang. Cuma seorang petani. Ia kemudian mendatangi Tjio Hwat Siong. Dia itu tuan tanah yang apolitis, atau tidak berpolitik. Murni petani," kata Kyai Abid.

Dengan enteng, lanjut Kyai Abid, H. Anwar mengatakan ia membutuhkan uang untuk menyekolahkan anaknya ke Mekkah. "Tanpa banyak bertanya mana boroh (agunan), Hwat Siong memberi pinjaman. Itu dibayarnya dari hasil panen. Alhamdulillah, sebelum K.H. Noer Ali pulang itu sudah lunas," tutur Kyai Abid, yang merupakan putra pahlawan nasional K.H. Noer Ali itu.

Hal yang sama juga ketika K.H. Noer Ali memerlukan penerangan listrik di pesantren At-Taqwa sekitar tahun 60-an. "K.H. Noer Ali kan memiliki visi membangun Kampung Surga. Dalam pandangannya mungkin kampung yang memiliki SDM baik, infrastruktur baik, dll," katanya.

Pada saat itu, K.H. Noer Ali bicara kepada Hwat Eng, adik dari Hwat Siong, bahwa ia perlu listrik untuk pesantren dan akan dibayar dari hasil panen. Lagi-lagi, Hwat Eng tak berpikir panjang. Ia langsung merakit diesel di Glodok dan dibawanya ke pesantren. Bahkan yang menyalakan dan mematikan diesel untuk penerangan pesantren setiap hari itu Hwat Eng dan keluarganya.

"Padahal, kalau Hwat Eng melihat dari paradigma agama yang sempit, bisa saja dia berpikir ini mau buat pesantren, agama Islam, yang mungkin akan memusuhi dia. Tapi tidak ada pikiran begitu. Inilah harmoni sosial dari Sobat Tande yang luar biasa," terang Kyai Abid.

Begitu juga sebaliknya. Ketika ada sweeping tentara sekutu terhadap orang Tionghoa. Saat itu, K.H Noer Ali lah yang menjaga barang dan harta milik warga Tionghoa yang sementara bersembunyi menghindari sweeping. "Pas mereka kembali, barang mereka aman dan utuh tanpa kurang apapun. Itulah Sobat Tande," kata Kyai Abid.

Selain itu, lanjut Kyai Abid, banyak contoh lain mengenai Sobat Tande antar berbagai suku dan agama, seperti dengan dengan orang Sunda, Jawa, dll. 

Kesimpulan pesan yang ingin disampaikan melalui wacana Sobat Tande ini adalai harmoni sosial yang sejatinya telah menjadi bagian bangsa Indonesia sejak lama. "Saya yakin di daerah lain pun ada. Tapi mungkin namanya saja yang berbeda," katanya.

"Dengan mewacanakan kembali Sobat Tande, mudah-mudahan Bekasi akan menjadi bagian dalam membangun khasanah harmoni sosial di Indonesia. Intinya bagaimana kita hidup berdampingan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," pungkasnya. (gl-15)

Twitter Facebook Google+

Berita Lainnya