K.H. Abid Marzuki: Sobat Tande sebagai Khasanah Sosial Warga Bekasi

K.H. Abid Marzuki: Sobat Tande sebagai Khasanah Sosial Warga Bekasi

K.H. Abid Marzuki, di kediamannya pada audiensi Sobat Tande, Sabtu (9/1)

Sabekasi.com, Babelan - Sobat Tande merupakan khasanah sosial warga Bekasi. Adalah harmoni sosial yang dibangun dengan mengabaikan sekat etnis, agama, dan status sosial lainnya. 

Hal tersebut disampaikan K.H Abid Marzuki dalam audiensi pendalaman substansi Sobat Tande di kediamannya, Ujung Harapan, Bababelan, Sabtu (9/1).

Menurutnya, Sobat Tande bukan gagasan dirinya, melainkan khasanah sosial warga Bekasi yang telah berlangsung lama. Mengenai siapa yang memulai, ia mengaku tidak tahu. "Saya hanya coba menghidupkan kembali khasanah sosial itu," kata Kyai Abid.

Berangkat dari niat menghidupkan wacana keharmonisan bermasyarakat, ia coba menelusuri akar sejarah di Bekasi. Istilah Sobat Tande kemudian muncul dalam ingatannya. "Kata itu sudah pernah saya dengar saat kecil. Ketika saya tanya ke sahabat di atas saya, mereka pun mengingatnya," tuturnya.

Dari telusurnya, ia menemukan bagaimana Sobat Tande memberi benefit sosial luar biasa. Baik dalam upaya mewujudkan kerukunan maupun pembangunan. Banyak contoh yang diberikan Kyai Abid. Baik Sobat Tande antara warga pribumi maupun non pribumi.

Lanjut Kyai Abid, secara kultural dan geografis, dulu Bekasi terbagi ke dalam dua bagian, yakni udik dan ilir. Udik merujuk ke bagian selatan Bekasi. Sementara Ilir ke bagian utara Bekasi. Kedua bagian ini dipisahkan oleh jalan Daendels atau rel kereta api. 

"Orang ilir itu cenderungan hidup bertani, sementara orang udik itu berkebun. Nah, banyak khasanah sosial Sobat Tande di sini," katanya.

Pada musim panen padi, orang Ilir banyak menampung orang udik. Bisa seminggu, dua minggu, atau sebulan. "Pokoknya selama panen masih ada. Mereka nginep. Istilahnya derep," tuturnya.

Tapi, lanjut Kyai Abid, keluarga tempat menginap atau menampung itu tidak sembarangan. "Jadi orang udik nginep di siapa, itu sudah ada keluarganya di situ (ilir). Yang sudah ada hubungan sosial tadi, Sobat Tande," terang Kyai Abid.

Saat musim tanam, orang udik pun "derep" di ilir. Karena orang udik umumnya yang memiliki kerbau untuk membajak sawah orang ilir. "Makanya, kalau musim tanam selesai, itu kita bisa melihat puluhan kebo berjalan dari ilir ke arah udik. Itu ditandai dengan ketupat kecil-kecil di leher kebo," jelas Kyai Abid.

Tradisi derep juga berlaku sebaliknya. Pada musim buah, orang Ilir menginap di keluarga Sobat Tande di Udik. Hubungan persaudaraan, melalui pernikahan antara orang Udik dan Ilir pun dikatakan Kyai Abid banyak terjadi karena Sobat Tande ini.  "Makanya, menurut saya, ini khasanah sosial warga Bekasi yang luar biasa," imbuhnya.

Bersambung

Twitter Facebook Google+

Berita Lainnya