Mahasiswa Suarakan Ekonomi Kerakyatan Pasar Tradisional

Mahasiswa Suarakan Ekonomi Kerakyatan Pasar Tradisional

Blog Single

Senat Mahasiswa Fakultas Fisip Universitas Islam "45" (Unisma) Bekasi menggelar seminar nasional Ekonomi Kerakyatan dengan tema "Mewujudkan Kedaulatan Ekonomi Melalui Pemberdayaan Pasar Tradisional yang Tangguh".

Sabekasi.com, Bekasi Timur - Keberadaan pasar tradisional bukan semata untuk urusan di bidang ekonomi, melainkan lebih jauh pada norma, budaya, sekaligus peradaban yang berlangsung sejak lama di berbagai wilayah. Di tengah arus modernitas, keberadaan pasar rakyat sebagai suatu budaya bangsa kian tergerus dengan menjamurnya retail-retail modern.

Mengingat begitu pentingnya keberadaan pasar tradisional sebagai jantung perekonomian rakyat kecil, Senat Mahasiswa Fakultas Fisip Universitas Islam "45" (Unisma) Bekasi menggelar seminar nasional Ekonomi Kerakyatan dengan tema "Mewujudkan Kedaulatan Ekonomi Melalui Pemberdayaan Pasar Tradisional yang Tangguh".

Hadir sebagai pembicara Anwar Ahmad selaku Dirjen Perdagangan Kementerian Perdagangan RI, Maryadi selaku wakil ketua Komisi B DPRD Kota Bekasi, dan Anim Imanudin.

Ketua Umum Senat Mahasiswa Fisip Unisma, Ahmad Lauhil Mahfudz menilai bahwa pasar tradisional dalam perekonomian bangsa berperan sebagai benteng ekonomi rakyat kecil.

"Pasar tradisional menjadi wadah berbagai produk-produk lokal, penyedia lapangan pekerjaan yang merakyat, pendapatan daerah APBD, aliran dana rakyat dan pelestarian budaya serta karakter bangsa Indonesia," terang Lauhil kepada sabekasi.com, Rabu (4/5).

Sebelum menyelenggarakan seminar ini, Lauhil menuturkan bahwa pihaknya telah mengunjungi sejumlah pasar tradisional yang ada di Kota Bekasi. Ia menilai bahwa menjamurnya pasar-pasar modern dapat menghancurkan perekonomian pasar tradisional.

"Kondisi objektif yang terjadi di lapangan adalah adanya swastanisasi, komersialisasi pasar tradisional, pengelolaan pasar tradisional yang buruk seperti sampah yang menumpuk, kotor, bau, dan semrawut," ujar Lauhil.

Disebutkan Lauhil, Kota Bekasi  memiliki 15 pasar tradisional. Namun, hanya 4 pasar yang dikelola oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi. Ke empat pasar tersebut yaitu Pasar Bantargebang, Kranjibaru, Pondok Gede, dan Jatiasih.

Sedangkan mal di Kota Bekasi berjumlah 14 dan Minimarket sejumlah 530 unit. "Hal ini terlihat jelas bahwa pasar tradisional seakan-akan bertarung sendirian di tengah gempuran usah-usaha minimarket dan supermarket yang dikelola swasta," jelas Lauhil.

Pihaknya menuntut Pemkot Bekasi untuk mengelola pasar tradisional secara mandiri dan profesional. "Tingkatkan pengawasan terhadap penyelenggaraan pasar tradisional dan buat kebijakan atau Perda yang pro terhadap pedagang kecil," pungkasnya. (Fad)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+