Pemda Bekasi Harus Perhatikan Nasib Warung Kelontong

Pemda Bekasi Harus Perhatikan Nasib Warung Kelontong

Ilustrasi (pixabay)

Sabekasi.com, Bekasi Timur - Menjamurnya perusahaan ritel raksasa atau waralaba modernmart di Bekasi telah menggusur warung-warung kelontong yang jadi sumber perekonomian sebagian warga Bekasi.

Pelaku dan pemerhati usaha mikro Ridwan Adi Wijaya mengatakan bahwa persaingan yang dihadapi warung kelontong memang berat. Banyak faktor yang membuat mereka sulit bersaing dengan perusahaan ritel raksasa itu.

Pertama, jalur distribusi produk yang berimplikasi pada harga. Perusahaan waralaba ritel membeli barang langsung dari produsennya. "Pembeliannya pun pasti dalam jumlah besar. Makanya, harga yang mereka dapat sudah pasti lebih rendah. Sementara warung kelontong harus melalui distributor atau agen. Di sini saja sudah kalah," jelas Ridwan.

Untuk usaha ritel, persaingan harga ini penting. "Sekarang begini. Harga yang ditawarkan waralaba ritel sama, atau sebutlah sedikit tidak lebih tinggi, dibandingkan agen tempat warung kelontong membeli barang untuk dijualnya. Ya, terus mereka mau jual berapa? Marginnya pasti kecil kalau mengikuti harga waralaba ritel itu," katanya.

Kedua, masalah konsep dan kemasan pemasaran. "Waralaba ritel itu kan displaynya menarik. Jenis barang yang disediakan juga relatif lebih lengkap. Selain itu, jam operasionalnya juga relatif lebih panjang dari warung kelontong," tutur pria yang sempat berkecimpung di bidang perbankan ini.

Ketiga, soal manajemen. Ini  juga dikatakan Ridwan menjadi kendala bagi pengusaha warung kelontong. Dimana, belum banyak warung kelontong yang dikelola dengan manajemen yang baik. Sementara waralaba ritel besar didukung dengan sistem manajemen yang baik.

Keempat, jarak yang dekat dengan konsumen sebagai keunggulan warung kelontong juga dikatakan Ridwan sudah terancam. Hal ini terjadi karena perusahaan-perusahaan ritel tersebut saat ini sudah masuk ke kampung-kampung.

Peran Pemerintah Daerah Jadi Kunci

Untuk faktor pemasaran dan manajemen, peran dari pengusaha warung kelontong sendiri besar. "Ini upaya yang terus menerus harus dilakukan oleh mereka," kata Ridwan.

Tapi peran Pemerintah Daerah (Pemda) Bekasi dalam hal ini juga penting. Pemda perlu melakukan pendampingan dan peningkatan pengetahuan serta kemampuan para pengusaha warung kelontong.

Menurutnya, pendampingan dari Pemda ini juga bisa diarahkan untuk menentukan fokus-fokus produk yang ditawarkan oleh warung kelontong. "Supaya persaingannya tidak sesenjang ini," imbuhnya.

Peran Pemda paling penting dikatakan Ridwan adalah terkait harga yang dipengaruhi jalur distribusi dan kebijakan pembatasan masuknya waralaba ritel ke kampung-kampung. 

"Bagaimana memastikan jalur ditribusi barang yang memungkinkan warung kelontong mendapat harga rendah. Atau bagaimana kebijakan penertiban harga. Di sini perannya Pemda. Tapi mengingat sistem ekonomi kita, pilihan pertama lebih mungkin dibanding yang kedua," terang Ridwan.

Soal pembatasan, menurut Ridwan itu sudah dilakukan di beberapa daerah lain, seperti Tarakan dan beberapa daerah di Sumatera Barat. Artinya, kebijakan pembatasan waralaba masuk ke kampung-kampung ini sangat mungkin dilakukan melalui otonomi daerah. (rd-15)

Baca Juga: Warung Rimun, Mencoba Eksis di Tengah Menjamurnya Ritel Raksasa

Twitter Facebook Google+

Berita Lainnya