Soal MEA, Pemerintah Dinilai Memulai dengan Kegagalan

Soal MEA, Pemerintah Dinilai Memulai dengan Kegagalan

Ilustrasi 

Sabekasi.com, Bekasi Timur - Kesepakatan pasar bebas Negara-negara ASEAN  atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang resmi berlaku 1 Januari 2016 dinilai gagal disosialisasikan. 

Padahal, kebijakan MEA memiliki implikasi besar, terutama bagi perekonomian warga. Bebasnya produk dan tenaga kerja asing masuk dari dan ke setiap Negara ASEAN, bisa dipandang sebagai peluang maupun ancaman.

Diberitakam sebelumnya, dalam survei yang dilakukan Kelompok Studi Mulia Pratama (KSMP), sekitar 40% warga Kota Bekasi tidak mengetahui MEA. Bahkan, mereka yang tahu pun, tidak benar-benar memahami dan mempersiapkan diri menghadapi agenda pasar bebas ini.

Baca: Survei KSMP: 40 Persen Warga Bekasi Tidak Tahu MEA

Penelusuran Sabekasi.com terhadap sejumlah pedagang di area lapangan dan sekitar Departemen Sosial (Depsos), Bulak Kapal, menunjukan hal senada. Mereka tidak tahu mengenai kebijakan ini.

Haris, seorang pedagang tas, mengaku tidak mengetahui sama sekali mengenai MEA. "Saya enggak tahu soal itu," katanya kepada Sabekasi.com, Minggu (10/1).

Hal yang sama juga disampaikan Fajar dan Dendi, pedagang gorangan dan roti bakar. Mereka bahkan sama sekali tak pernah mendengar info terkait MEA. "Saya enggak pernah denger. Apaan tuh," ujar Fajar.

Penelusuran Sabekasi lainnya juga menunjukan hal serupa. Beberapa Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) konveksi di Bekasi tidak terpapar informasi mengenai MEA. Mereka mengaku tidak tahu dan apa kemungkinan implikasinya terhadap bisnisnya.

Memulai dengan Kegagalan

Terlepas apakah MEA dilihat sebagai peluang atau ancaman, kegagalan sosialisasi dinilai menjadi kegagalan awal pemerintah menghadapi MEA. Hal itu disampaikan Ketua Tunas Bekasi Bill Hidayat. 

Ia menilai, bagaimana bisa memanfaatkan peluang MEA jika warga, terutama pelaku ekonomi tidak mengetahuinya. "Atau bagaimana bisa mereduksi resiko MEA, tahu saja tidak. Sederhana saja kan," kata Bill.

Menurutnya, kondisi tersebut bisa dinilai sebagai kegagalan awal Indonesia dalam MEA. "Sekarang jangankan upaya pendampingan, sosialisasi saja tidak dijalankan dengan baik. Gagal di awal," jelasnya.

Karena itu, ia pun menilai rasa percaya diri pemerintah yang mengatakan Negara lain takut sama Indonesia soal MEA, tak punya landasan kuat. "Jangan sampai kita "kepedean", padahal realitasnya kita tidak siap. Jangankan siap, tahu saja tidak. Karena ujung-ujungnya yang jadi korban selalu rakyat kecil," pungkas Bill. (Fad/gl-15)

Twitter Facebook Google+

Berita Lainnya