Terancam Bubar, Djaelani: Ridwan Kamil Harus Cakap Kelola Koalisi

Terancam Bubar, Djaelani: Ridwan Kamil Harus Cakap Kelola Koalisi

Blog Single

Ahmad Djaelani

Sabekasi.com, Bekasi Timur – Melihat dinamika politik dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat tahun 2018, figur bakal calon Ridwan Kamil merupakan kontestan yang dinilai dalam status “aman” untuk maju dalam pemilihan nanti. Pasalnya, sejauh ini sudah ada empat partai yang terang-terangan menyatakan dukungannya kepada Ridwan Kamil, di antaranya adalah Nasdem, PKB, PPP, dan Golkar.

Formasi koalisi partai ini mengumpulkan sebanyak 38 kursi, jauh melampaui kursi yang disyaratkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebanyak 20 kursi di legislatif.

Direktur Eksekutif Tiksa Institute, Ahmad Djaelani menyatakan, ada persoalan krusial yang ditengarai akan berdampak pada keutuhan koalisi partai pengusung Ridwan Kamil.

Pertama, adalah terkait penentuan posisi calon wakil gubernur yang akan mendampingi Ridwan Kamil. Dari empat partai pendukung, praktis hanya Nasdem yang hingga saat ini tidak menyodorkan nama calon pendamping. Sedangkan PKB, PPP, dan Golkar menyodorkan masing-masing nama yang menjadi unggulan.

PKB menyiapkan kader Ketua DPW Jabar. PPP dalam deklarasinya langsung menggandengkan Ridwan Kamil dengan kader yang merupakan Bupati Tasikmalaya. Sedangkan beberapa hari berselang, DPP Partai Golkar menyodorkan nama anggota DPR-RI Daniel Muttaqien.

“Penentuan wakil ini akan menjadi persoalan di dalam koalisi. Pasti akan alot. Sebab tidak ada partai yang mendominasi. Jika tidak dibangun komunikasi politik secara intensif, bukan tidak mungkin koalisi partai pengusung Ridwan Kamil akan bubar di tengah jalan,” urai Ahmad Djaelani dalam keterangannya kepada awak media, Kamis (2/11/2017).

“Kemungkinan PPP dan Golkar yang akan ngotot ngusung calon pendamping bagi Ridwan Kamil. Indikasi itu sudah terlihat dari deklarasi dan pernyataan para pimpinan kedua partai tersebut. Di tambah, kedua partai tersebut juga sama-sama memiliki basis kuat di Jawa Barat,” sambung Djaelani.

Bukan tidak mungkin, menurut Djaelani, friksi dan konflik internal koalisi partai pengusung tersebut akan juga berdampak pada elektabilitas Ridwan Kamil. Meski dalam beberapa survei, elektabilitas Ridwan Kamil paling tinggi diantara figur lainnya.

“Ridwan Kamil harus mampu mengkomunikasikan banyaknya kepentingan partai koalisi. Jangan sampai membiarkan partai koalisi rebut soal penentuan wakil dan kemudian mencuat ke publik, itu bisa saja akan mempengaruhi elektabilitas RK secara langsung,” ujarnya.

Djaelani mengingatkan, kecakapan Ridwan Kamil sangat penting dalam mengelola kepentingan partai koalisi. Sebab, figur Ridwan Kamil yang datang dari kalangan akademisi dan profesional pasti sangat diharapkan oleh partai pengusung untuk membesarkan partainya masing-masing.

“Jika itu tidak berhasil dikelola oleh Ridwan Kamil, kerja koalisi dalam pemenangan Pilgub tidak akan massif bergerak hingga akar rumput, pasti hanya akan begerak pada ruang-ruang formal saja,” tandas Djaelani. (Sab)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+