Jejak Omah Buruh Bekasi, Menyelami Nilai dan Maknanya

Jejak Omah Buruh Bekasi, Menyelami Nilai dan Maknanya

Blog Single

Omah Buruh

Sabekasi.com, Cikarang Selatan - Tiang bangunannya tak berpondasi. Berbahan kayu dan bambu, menempel di atas beton sebuah 'jembatan buntung'. Ketika ada gerakan signifikan, bangunan itu akan terasa mengayun.

Atapnya juga tak berbahan sama. Ada seng, terpal, juga plastik. Ragam suara akan segera terdengar ketika hembusan angin menerpa benda-benda itu. Dari mulai gemernyit gesekan tiang. Gembreng suara seng. Hingga gemerisik bunyi terpal dan plastik.

Begitu juga dengan alasnya. Terdiri dari deretan palet berlapis terpal. Sebagian lagi berlapis karpet dengan motif dan warna tak serupa. Beberapa palet juga diletakan di pinggiran jembatan. Tampak seperti pagar. Meski mungkin fungsinya lebih pada mengurangi efek tiupan angin dan hujan yang masuk ke dalam.

Ketika memasuki bangunan, kita akan mendapati bagian depannya terbuka. Cukup panjang. Mungkin sekitar 20-25 meter menjorok ke dalam. Katanya, tempat itu biasa digunakan untuk konsolidasi, pendidikan, pelatihan, dsb.

Bergerak ke dalam, kita akan segera menemukan beberapa ruangan bersekat triplek. Ada ruang kerja yang merangkap tempat tidur. Ada juga dapur umum yang akan turut sibuk ketika ada konsolidasi atau pertemuan lainnya.

Semakin ke belakang, kita akan mendapati dua toilet di sebelah kanan. Sementara di bagian kirinya berdiri saung berukuran kurang lebih 4x4 m2. Cukup nyaman untuk beristirahat atau diskusi lebih serius.

Di ujung jembatan kita akan menemukan kandang ayam yang tampaknya tak lagi berfungsi. Dari titik itu, hamparan luas akan jadi pemandangan yang melegakan. Indahnya keluasan alam yang mungkin semu. Karena tanah kosong berbukit itu telah dikuasai para pemodal kawasan industri.

Itulah gambaran terakhir Omah Buruh sebelum beberapa hari lalu mulai dibongkar Satpol PP. Bangunan sederhana yang telah melahirkan sederet ide dan tokoh penting gerakan buruh Indonesia. Tempat darah dan airmata buruh berakumulasi menjadi gagasan perlawanan. Tempat sejumlah kebijakan tenaga kerja diinisiasi. Tempat keadilan menemukan para pejuangnya. Bahkan tempat cinta kaum buruh dilabuhkan.

SEJARAH OMAH BURUH

Berdirinya Omah Buruh (OB) merupakan proses panjang. Berdasarkan media buruh Koran Perjoeangan, menelisik jejak OB harus mulai dari penelusuran gerakan buruh Bekasi sejak 2002. Terutama Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) yang saat itu masih bersifat unitaris dan berafiliasi dengan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Reformasi.

Sebagai organ baru, FSPMI saat itu cukup agresif. Bahkan berhasil mengubah peta gerakan buruh Bekasi. Berbagai gerakan yang melibatkan serikat lain dan masyarakat mulai diinisiasi. Sebut saja forum komunikasi lintas serikat pekerja di kawasan EJIP dan forum komunikasi FSPMI untuk kawasan EJIP, Delta Silicon, dan Hyundai (FK-EDH).

Perjuangan mereka semakin menguat menjelang perusahaan Jepang PT. MTPDI tutup. Disusul dengan kasus yang sama di PT. Kymco Lippo Motor Indonesia dan PT. CMKS Indonesia. Deretan peristiwa itu pula yang kemudian melahirkan inisiatif dana perjuangan sebesar 1% di luar iuran.

Kasus di MTPDI dan CMKS bisa selesai dalam waktu relatif singkat. Namun perjuangan di Kymco harus berlangsung lebih lama. Di sinilah kemudian dibangun tenda perjuangan untuk berbagai aktivitas seperti konsolidasi, rekrutmen anggota, sampai rapat kerja serikat. Tenda perjuangan ini pula yang kemudian  menjadi titik berangkat setiap aksi besar, seperti May Day dan perjuangan BPJS.

Meski kasus Kymco belum rampung, tenda perjuangan saat itu dipindah ke PT. Kanefusa Indonesia karena ada kasus baru di perusahaan itu. Ketika kasus di Kanefusa selesai, tenda perjuangan dipindahkan lagi ke sebelah barat kawasan EJIP. Di lahan kosong pinggir kali yang saat itu dinilai FSPMI 'tak bertuan'. Tapi pihak EJIP melarang pendiriannya dan berujung perdebatan.

Perdebatan memanas berbuntut kejar-kejaran dengan pihak keamanan EJIP. Saat itulah mereka menemukan jembatan buntung yang diketahui kemudian akan diserahkan ke Pemkab Bekasi. Di situlah tenda perjuangan yang merupakan cikal bakal Omah Buruh dibangun. Peristiwa itu terjadi tahun 2011.

Nama Omah Buruh sendiri terinspirasi dari Omah Tani yang berada di Batang, Jawa Tengah. Tempat perjuangan para petani di sana. Hal ini diketahui dari Obon Tabroni, tokoh buruh nasional dari Bekasi yang memelopori dan menjadi salah satu penggerak FSPMI.

"Kita pilih nama 'omah' atau 'rumah' itu sebetulnya karena pengen lebih terasa homy. Jadi gak kaku kayak nama sekretariat atau apalah. Prinsipnya itu. Supaya terasa kebersamaannya. Karena kan ini memang rumah bersama," begitu kata Obon kepada Sabekasi.com.

JEJAK PERJUANGAN DI OMAH BURUH

Omah Buruh punya peran penting dalam gerakan buruh Indonesia. Terutama dalam hampir satu dekade terakhir. Berbagai inisiatif dan aksi yang berujung kebijakan perburuhan, kata Obon, diantaranya lahir dan matang di bangunan sederhana itu. Kebijakan yang tak hanya berdampak lokal, tetapi nasional, bahkan internasional. Tak hanya berpengaruh positif bagi buruh, tetapi juga masyarakat umum.

Kenaikan dan sistem pengupahan tahun 2012 contohnya. Dimana UMK Bekasi bisa melampaui Jakarta dan lahirnya upah sektoral. Dua hal yang sebelumnya dinilai mustahil. Keberhasilan bersejarah yang merupakan buah dari aksi penutupan tol Cikarang Barat akhir tahun 2011. Strategi mogok fenomenal yang dilahirkan dan dirumuskan FSPMI di Omah Buruh.

Dampaknya signifikan. Peta perburuhan nasional berubah. Terutama FSPMI yang kemudian semakin menguat. Menurut Obon, di Bekasi sendiri, penambahan anggota dan perusahaan yang bergabung dengan FSPMI tahun itu (2012) meningkat hingga 200%. Pembentukan Pimpinan Unit Kerja (PUK), termasuk konsolidasi banyak dilakukan di OB.

Seiring itu, aktivitas di OB pun semakin meningkat. Konsolidasi, pendidikan, pelatihan dan berbagai aktivitas lainnya. Gagasan 'gerebek pabrik' pun dikatakan Obon lahir di sana. Aksi yang berhasil memaksa perusahaan untuk mengangkat karyawan kontrak menjadi karyawan tetap. Menurut Obon, gerakan 'gerebek pabrik' berhasil membuat sekitar 50.000 buruh diangkat menjadi pekerja tetap.

Konsolidasi aksi massa untuk perjuangan jaminan sosial juga di antaranya dilakukan di OB. Sebuah gerakan lintas elemen yang memaksa pemerintah menjalankan Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (SJSN). Desakan hukum dan aksi massa ini pun berhasil melahirkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Fenomena gerakan buruh Bekasi tersebut kemudian menjadi perhatian nasional, bahkan internasional. Para peneliti, akademisi, dan aktivis perburuhan dari berbagai negara datang untuk mempelajari gerakan buruh Bekasi. Termasuk keberadaan OB sebagai titik perjuangannya.

Sejak itu, jangkauan aktivitas buruh di OB semakin luas. Aksi yang dijalankan melampaui sekedar kepentingan buruh. Sebut saja aksi mengorganisir bantuan bencana alam ke seluruh pelosok nusantara. Santunan dan pemberdayaan anak-anak yatim. Termasuk konsolidasi relawan Jamkeswatch yang hingga saat ini, hampir setiap hari, terus membantu advokasi pasien miskin guna mendapat perawatan rumah sakit.

Tak hanya itu, di OB juga mulai diinisiasi gerakan politik buruh. Salah satu strategi perjuangan dengan merebut kursi-kursi kekuasaan. Tahun 2014, dua dari beberapa calon perwakilan buruh berhasil merebut kursi DPRD Kabupaten Bekasi. Mereka adalah Nurdin Muhidin dan Nyumarno. Tahun 2016, buruh Bekasi juga berhasil mendorong Michael Johanis Latuwael sebagai Dewan Pengawas BPJS Kesehatan.

Pada Pilkada Kabupaten Bekasi 2017 lalu, FSPMI juga mendorong Obon Tabroni sebagai calon Bupati. Meski tak berhasil, gerakan politik Obon banyak dipuji berbagai pihak. Selain karena konsisten di jalur independen, Obon dinilai sukses membangun gerakan politik kerelawanan dan menyuarakan politik bersih. Perolehan suaranya pun bahkan bisa mengalahkan kandidat yang diusung PDIP sebagai partai penguasa.

Berbagai peristiwa dan gerakan buruh yang melibatkan OB sebagai simpul perjuangan tersebut tentu hanya sebagian kecil contoh. Masih banyak lagi gerakan perjuangan keadilan buruh dan rakyat yang diinisiasi di tempat itu. Sehingga OB tentu bukanlah sekedar bangunan.

BUKAN SEKEDAR BANGUNAN

Merujuk pada data peristiwa di atas, bisa dimaknai bahwa OB bukanlah sekedar bangunan. Bukan sekedar tempat bersama. Bukan juga semata peristiwa-peristiwanya. Karena di atas itu semua, ada nilai dan makna yang melampaui sekedar bangunan dan peristiwa.

Bagi Obon, OB menyimbolkan banyak nilai perjuangan buruh, terutama Bekasi. "OB itu simbol perlawanan. Perlawanan atas penindasan, Perlawanan ketidakadilan. Perlawanan kesewenangan. Dan sebagainnya," katanya.

Ia mencontohkan, banyak perusahaan yang belum atau dikatakannya tidak mau menjalankan peraturan perundang-undangan. Dari mulai mekanisme pengupahan sampai keselamatan kerja. "Undang-undang dan aturannya jelas. Tapi masih banyak yang melanggar dan tetap beroperasi. Hak-hak buruh dirampas," tegasnya.

Di OB inilah, lanjut Obon, perlawanan dan perjuangan hak-hak buruh itu banyak diinisasi. "Sebagian sudah berhasil. Sebagian lagi masih jauh dari harapan. Karena masih banyak pengusaha 'hitam' beroperasi," imbuhnya.

OB juga dikatakannya merupakan simbol kemandirian. "Sekretariat FSPMI Bekasi kita bangun swadaya. OB kita dirikan dan rawat bersama. Kita gak pernah minta bantuan pemerintah dan perusahaan untuk kelangsungan OB. Kita hidupi bareng-bareng," katanya.

Konsep kemandirian ini menurutnya nilai OB yang sangat penting. Karena tanpa kemandirian, nilai perjuangan akan rusak. "Tanpa kemandirian, kita akan mudah diintervensi. Tanpa kemandirian, gak akan ada perlawanan. Kita akan lemah," tuturnya.

Selain itu, masih banyak nilai dan makna OB yang diuraikan Obon. Namun yang mungkin penting menjadi catatan adalah bahwa OB menurutnya merupakan memori kolektif buruh, khususnya Bekasi.

"Di sini kita berjuang bareng. Sakit bareng. Bahagia bareng. Perih bareng. Berdarah bareng. Lapar bareng-bareng. Kenyang bareng-bareng. Tapi seringnya sih susah sama lapar bareng," katanya sambil tertawa.

Obon meneruskan, bagi setiap orang yang hidup dan menghidupi OB pasti punya hubungan emosional personal. Sehingga OB juga bisa punya makna berbeda bagi masing-masing mereka.

"Ada kawan-kawan yang ter-PHK dan terusir dari kontrakan, mereka tinggal di sini. Ada yang kita dorong dagang atau bisnis. Tapi itu memang balik ke masing-masing niatnya. Prinsipnya kita saling support," katanya.

Lanjut Obon, OB juga tempat curhat atau menenangkan diri kawan-kawan yang 'galau'. Malah OB juga dikatakannya menjadi tempat kaum buruh melabuhkan cintanya. "Lah Amier (Sekjen FSPMI Bekasi) itu nikah di sini. Di OB ini. Makanya pasti OB buat Amier itu punya nilai personal. Banyak ini cerita OB buat kawan-kawan," tukasnya.

AKAN TETAP BERDIRI

Beberapa hari lalu, OB telah mulai dibongkar oleh Satpol PP Kabupaten Bekasi dengan alasan jembatan akan difungsikan. Pihak buruh, menurut Obon tidak masalah dengan itu. "Karena itu kan fasilitas publik, gak masalah. Tapi berarti kan OB harus pindah," katanya.

Pemungsian jembatan tersebut juga dikatakan Obon perlu waktu lantaran jalan di jalur itu sudah retak. Sehingga Pemkab menurutnya tidak mau mengambil resiko, yang berarti akan ada proses perbaikan. Sepanjang proses itulah, pihaknya berusaha untuk kembali membangun OB di area lainnya.

Hari Minggu (3/9), Obon beserta kawan-kawan buruh lainnya mulai membangun kembali OB di area yang tak jauh dari situ. Namun, Senin (4/9) pagi mereka menemukan bangunan itu sudah dirobohkan oleh pihak pengelola EJIP dengan dalih tanah milik perusahaan.

Hal itu kemudian memicu kemarahan Obon dan buruh lainnya. Dalam status Facebooknya, Obon mempublikasikan screenshot tulisan chat-nya terkait hal ini.

"Tunjukin inbox ane ke orang EJIP bilang jangan pada belagu, di balik keuntungan mereka ada keringat buruh di situ, pakai lahan ga kepake aja sampai segitu, lagian blm tentu punya mereka, suruh aja sekalian lapor polisi bilang ane yang suruh, besok pulang dari bandung kalau mau ketemu," tulis Obon.

Status tersebut kemudian mendapat dukungan dari berbagai pihak yang terlihat dari komentar dan responnya.

Kepada Sabekasi.com, Obon menjelaskan pihaknya bukan ingin menyerobot lahan. "Kita cuma mau mengambil hak kita. Hak buruh. Menurut aturan perundang-undangan, ada sekian persen dari kawasan yang wajib peruntukannya bagi sarana publik. Di antaranya untuk perumahan buruh. Mana? Sampai saat ini kan belum ada," katanya.

Ia menjelaskan, Permen Perindustrian No 35 Tahun 2010 sebagaimana telah direvisi Permen Perindustrian Nomor 40 tahun 2016 tentang Pedoman Teknis Kawasan Industri, telah mengatur hal ini. Di mana, luas Area Kavling Industri maksimal 70% dari luas Kawasan Industri. Sisanya untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) 10%, Jalan dan Saluran sebesar 8-12%.

"Terus 8% itu untuk Fasilitas Sarana dan Prasarana Penunjang seperti instalasi pengolah air limbah, Kantor Pengelola, Unit Pemadam Kebakaran, Klinik Kesehatan, Sarana Ibadah, Sarana Olahraga, Perumahan Karyawan dan Sarana Penunjang lainna," jelas Obon.

Karena itu, ia meyakinkan bahwa apa yang dilakukan pihaknya semata-mata untuk mengambil apa yang menjadi hak buruh. "Nanti kita akan buka semua aturannya. Kita akan buktikan siapa yang sebenernya melanggar aturan," kata Obon tegas.

Perselisihan terkait bangunan baru OB masih terus bergulir sampai saat ini. Ketika ditanya apakah pihaknya akan tetap mendirikan OB kembali, Obon menjawab dengan tegas, "Lah pasti. Gak ada urusan. Harus berdiri lagi. Selama ketidakadilan bagi buruh masih terjadi, selama itu juga OB akan berdiri," tandasnya. (Redaksi)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+