Cerita Lengkap Dibalik Penyekapan 5 Buruh Bekasi

Cerita Lengkap Dibalik Penyekapan 5 Buruh Bekasi

Blog Single

Rombongan sidak DPRD Kabupaten Bekasi ke PT. Arta Boga Cemerlang terkait penyekapan lima buruh, Rabu (26/7) malam.

Sabekasi.com, Cikarang Selatan - Kasus penyekapan lima orang buruh di PT. Arta Boga Cemerlang telah menyita perhatian publik. Kelima orang buruh yakni Samsudin, Darmawan, Agus, Didi dan Jamal, ditahan dan tidak diperbolehkan pulang oleh pihak perusahaan selama 3 hari sejak Senin (24/7). Dan baru berhasil dibebaskan Rabu (26/7). Bagaimana cerita kronologi lengkap dari kasus penyekapan ini?.

Anggota Komisi IV DPRD Nyumarno mengatakan, terkuaknya kasus ini berawal dari adanya laporan dari LSM Benteng Bekasi yang menyebut adanya penahanan 5 orang di PT. Arta Boga Cemerlang yang beralamat di Jl. Kruing 2 Kawasan Industri Delta Silicon Cikarang.

Baca juga: Duh, 5 Buruh Bekasi Disekap 3 Hari dalam Pabrik di Kawasan Delta

Laporan yang dibuat secara tertulis kepada DPRD dan melalui pesan Whatsapp, dikatakan Nyumarno, kemudian pihak  DPRD untuk jalan paralel, yaitu agar pihak keluarga membuat laporan ke kepolisian dan DPRD melakukan sidak ke perusahaan. “Akhirnya DPRD lakukan sidak (inspeksi mendadak) ke lokasi perusahaan, Rabu malam 26 Juli 2017,” ujar Nyumarno kepada Sabekasi.com.

Selanjutnya, sidak langsung dipimpin oleh Ketua DPRD Kabupaten Bekasi Sunandar, Ketua Komisi IV DPRD Anden, Anggota Komisi IV DPRD Nyumarno dan Nurdin Muhidin. Para pelapor dari LSM Benteng Bekasi, Staff Komisi IV dan beberapa rekan pers turut mengikuti sidak ini.

“Pada mulanya, belum jelas diketahui apa penyebab buruh sampai ditahan selama 3 hari kerja ini. Pengaduan ini menyulut emosi DPRD Kabupaten Bekasi, geram dengan pengaduan yang ada, meski malam hari DPRD lakukan sidak ke lokasi pabrik,” lanjut Nyumarno.

Sekitar jam 21.00 WIB malam, rombongan sidak berangkat dan tiba di PT. Arta Boga Cemerlang. Rombongan DPRD meminta keterangan awal kepada Security yang ada di pos penjagaan perihal kebenaran penahanan 5 pekerja tersebut. Sambil menunjukkan Surat Tugas Inspeksi Mendadak dari lembaga DPRD ke Security.

Karena Selisih Barang, Terlunta-lunta di Pabrik

Diakui Nyumarno, tak banyak informasi yang didapat dari security. Namun salah seorang security membenarkan adanya 5 orang buruh yang belum boleh pulang. “Lantaran ada "selisih barang",” ungkap salah seorang security diceritakan Nyumarno.

Tak puas dengan jawaban security, rombongan sidak meminta bertemu dengan manajemen. Salah seorang bagian Legal perusahaan bernama Ando keluar menemui rombongan sidak di halaman gedung perusahaan. Juru bicara dari rombongan sidak DPRD Nyumarno membuka pembicaraan, bahwa maksud dan tujuan rombongan adalah inspeksi mendadak sebagai bagian dari fungsi pengawasan yang melekat pada DPRD sesuai ketentuan perundangan.

Nyumarno menjelaskan, pihaknya menerima pengaduan dari salah satu keluarga pekerja PT. Arta Boga Cemerlang melalui Sdr.Turangga LSM Benteng Bekasi, perihal adanya 5 pekerja yang ditahan tidak boleh pulang selama 3 hari oleh perusahaan sejak Senin 24 Juli 2017.

Pihak perusahaan Ando membenarkan bahwa ada pekerja yang belum boleh pulang. “Karena sedang stok opname barang, jadi bukan penahanan,” ucapnya megawali diskusi.

Lanjut Ando, pihak perusahaan dalam audit stok opname menemukan adanya "selisih barang" saat penghitungan stok opname. Jadi antara perhitungan pekerja bagian gudang dengan perhitungan manajemen ada selisih barang. “Makanya pekerja harus mempertanggung jawabkannya,” jelas Ando.

Perusahaan, kata Ando, menawarkan kepada 5  pekerja bagian gudang tersebut, untuk menghubungi keluarganya dirumah, apakah akan diselesaikan secara kekeluargaan ataukah langkah hukum.

Terjadi diskusi dan debat antara rombongan sidak dengan Ando selaku Legal perusahaan di halaman area perusahaan. Pihak DPRD yang tidak terima dengan penyambutan perusahaan, meminta agar diterima untuk masuk ke dalam pabrik dan melihat aktivitas perusahaan.

“Bapak mengijinkan atau tidak?.  Jika tidak Bapak ijinkan, nggak masalah, kami dan rombongan akan pulang, tapi nanti gantian anda yang akan kami panggil ke DPRD,” ucap Nyumarno dengan nada tinggi.

Akhirnya, rombongan sidak dipersilahkan untuk masuk. “Bukan maksud tidak mau menerima di dalam pabrik, tapi jika berkenan Bapak-Bapak besok saja kembali kesininya, soalnya pihak manajemen sudah pada pulang,” ungkap Ando.

Rombongan sidak pun masuk ke area perusahaan, dari gudang hingga ruang kantor kecil terdapat beberapa orang administrasi dan marketing yang sedang bekerja. Dan rombongan diterima duduk untuk diskusi, beragam pertanyaan muncul dari rombongan sidak.

Ketua DPRD Sunandar menanyakan kaitan jumlah karyawan dan bagaimana jam kerjanya. Nurdin Muhidin bertanya seputar upahnya, kesejahteraan buruhnya, peraturan perusahaan atau PKB-nya, ijin-ijin perusahaan, dan berbagai pertanyaan lain. Sedangkan Anden selaku Ketua Komisi IV menyampaikan prihatin dan sangat disayangkan kejadian ini, menjadi momok yang tidak baik untuk perusahaan-perusahaan lainnya. “Seharusnya ada mekanisme lainnya, dengan tanpa menahan para pekerjanya,” imbuh Anden.

“Ini pabrik atau hanya gudang, siapa yang menyuruh 5 buruh tidak pulang, dimana 5 buruh pekerja itu tidurnya saat malam, disuruh aktifitas ngapain saja itu buruhnya, dan sekarang dimana 5 buruh tersebut,” tanya Nyumarno. “Mereka sudah pulang barusan,” jawab Ando.

Kemudian ditanyakan kembali oleh Nyumarno. “Pulang kemana dan sama siapa?, naik apa mereka pulangnya, soalnya ini pihak keluarga pekerja saat dihubungi menyampaikan mereka belum pulang sampai rumah,” terang dia.

Disampaikan Ando, 5 orang pekerja motornya masih ada di parkiran pabrik, tadi barusan dijemput oleh pihak kepolisian bernama Pak Widodo dan rombongannya, untuk dibawa ke kantor polisi.

Untuk memastikannya, Nyumarno menghubungi Widodo Krimsus Polres Bekasi, dan mendapat jawaban benar 5 pekerja dibawa ke Polres untuk dimintai keterangan, atas adanya laporan dari salah satu keluarga pekerj ke Polres. Mendapat jawaban itu, rombongan sidak menjadi tenang, minimal keselamatan pekerja sudah terjamin di Polres.

Di akhir sidak, Nyumarno mengungkapkan kepada pihak perusahaan, apapun alasannya tidak dapat dibenarkan penahanan terhadap buruh di dalam pabrik, apalagi sampai berhari-hari. Kerja ada aturannya, 8 jam per hari. Kalau lembur juga, lanjut Nyumarno ada aturan mainnya, harus ada kesepakatan antara pekerja dan pemberi kerja.

Dirinya menambahkan, penyekapan buruh tersebut sudah masuk ranah pidana. Menurut pasal 333 KUHP, yaitu “barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum merampas kemerdekaan (menahan) orang atau meneruskan tahanan itu dengan melawan hak”. Ancamannya bisa pidana sekurang-kurangnya 8 hingga 12 tahun penjara.

“Ini harus diproses hukum, pelakunya, pemberi kerjanya, pemilik pabriknya semua bisa kena ancaman pidana,” tandas Nyumarno mengakhiri.

Dikembalikan kepada Keluarga

Selepas dari perusahaan, rombongan sidak langsung berangka untuk menuju Polres Metro Bekasi Kabupaten. Hal ini untuk mengecek keberadaan lima orang buruh yang disekap perusahaan dan berikut memberikan pendampingan hukum. Kedatangan rombongan sidak diterima oleh Penyidik Krimsus, di antaranya adalah Iptu, Jamaludin, Bripka Akhmad Rifai dan Briptu Gilang Distrariyan.

Iptu Jamaludin membenarkan, bahwa ada pengaduan dari pihak keluarga pekerja PT. Arta Boga Cemerlang, yang sudah tidak pulang selama 3 hari. “Atas laporan pengaduan Polisi bergerak cepat ke pabrik, dan benar 5 pekerja itu ada dibawa ke Polres untuk di mintai keterangan,” terangnya.

Pihak kepolisian kemudian mempertemukan 5 pekerja tersebut kepada Anden dan Nyumarno. Di akhir pembicaraan, Nyumarno mengajukan permohonan kepada pihak kepolisian, agar 5 buruh itu dapat pulang dulu untuk mandi, bertemu keluarganya dan istirahat.

“Soalnya terlihat dari paras raut muka kelima pekerja itu lusuh dan bau keringat, yang infonya juga saat di pabrik mereka tidurnya di Pos Security,” ujar Nyumarno.

Pihak DPRD juga menyampaikan bahwa dalam kasus ini akan memberikan pendampingan hukum berupa pengacara untuk kelima pekerja ini dan pelaporan tindak pidana ke Polres kembali saat keadaan para buruh membaik.

Pihak kepolisian menyetujui untuk pengajuan dari DPRD, dengan berita acara serah terima pekerja ke DPRD dalam keadaan sehat wal afiat. Kemudian para korban 5 pekerja, diantarkan ke rumah masing-masing.

“Kami mengucapkan terimakasih dan apresiasi atas kinerja cepat rekan-rekan kepolisian, serta ucapan titip salam hormat untuk Pak Kasat Reskrim, Kapolres dan seluruh jajarannya,” pungkas Nyumarno. (Sab)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+