Tentang Falya 3: Mimpi Seorang Ayah

Tentang Falya 3: Mimpi Seorang Ayah

Blog Single

Falya Raafani Blegur bersama kakaknya

Mungkin seperti semua ayah, seperti semua orang tua, Ibrahim telah memiliki rencana-rencana dan harapan-harapan untuk putrinya, Falya Raafani Blegur, kelak. Namun rencana tinggalah rencana. Ia harus mengubur rencananya bersama dengan kepergian Falya selamanya.

Baca: 
Tentang Falya: Kehilangan, Ketidakadilan, dan Perjuangan Ayah
Tentang Falya 2: Fali Penebar Kebahagiaan

Sejak Fali (panggilan kesayangan Falya) dalam kandungan, Ibrahim mengaku sudah memiliki harapan dan rencana. Hingga akhirnya Fali lahir, Ia semakin bersemangat mencari nafkah untuk memenuhi mimpi tentang buah hatinya itu.

"Saya sudah mempersiapkan rencana pendidikan Fali," lirih Ibrahim. Upaya-upaya untuk memastikan masa depan pendidikan Fali telah ditempuhnya. Ia berharap Fali bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

"Saya sudah asuransikan pendidikan Fali hingga kuliah nanti. Kalau pilihan bidang dan karir, pastinya kita serahkan pada anak. Saya hanya mempersiapkan hal-hal yang bisa menunjang itu," tutur Ibrahim.

Tak hanya soal pendidikan, Ibrahim pun sangat perhatian terhadap kesehatan dan pertumbuhan Fali. Ibrahim dan istrinya Eri Kusrini kemudian sepakat untuk memberikan Fali Air Susu Ibu (ASI) ekslusif. Karenanya, Eri pun mengundurkan diri dari pekerjaannya agar bisa memenuhi rencana tersebut.

Rencana itu berjalan baik, hingga akhirnya Fali harus dibawa ke rumah sakit Awal Bros Bekasi. Tak diduga Ibrahim dan keluarga, saat itu ternyata adalah saat-saat terakhir kebersamaannya dengan Fali. Fali meninggal dunia diduga menjadi korban malpraktik RS Awal Bros.

Di RS tersebut, Ibrahim harus melihat kondisi Fali tiba-tiba menjadi kritis, mengkhawatirkan. "Hati saya teriris melihat kondisi Fali saat itu," lirih Ibrahim dengan suaranya yang kembali parau. 

Bagaimana tidak? Pasca mendapat suntikan antibiotik, tubuh Fali didapatinya menjadi dingin dan perutnya membengkak. Yang lebih membuat Ibrahim terguncang, dari mulut Fali keluar busa dan bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya. 

Pemandangan tersebut tentu membuat panik Ibrahim dan keluarga. Ia segera memanggil dokter. Namun dokter baru datang setelah ia memanggil untuk yang kedua kalinya. Saat itu, ia mengaku kesal karena lambannya dokter menangani anaknya yang sudah dalam kondisi kritis.

Ibrahim pun mengaku bingung melihat kondisi anaknya tiba-tiba menjadi kritis setelah suntikan antibiotik itu. Padahal sebelum suntikan, Fali dilihat Ibrahim dalam kondisi baik-baik saja. 

Seperti mimpi, akhirnya Ibrahim harus menerima kabar yang membuatnya luruh. Fali telah tiada. "Dunia seperti runtuh," begitulah ia menggambarkan perasaannya saat itu.

Kejadian tersebut dikatakan Ibrahim membuat ia dan keluarganya terpukul. "Kami semua shock. Bahkan istri saya sakit sampai 2 minggu sejak kepergian Fali. Dia terguncang," kata Ibrahim.

Kini Fali telah tiada. Mimpi Ibrahim tentang Fali hanya tinggal mimpi. Namun, kejadian ini membuat Ibrahim punya cita-cita dan mimpi lain.

"Saya berharap tidak ada kejadian serupa menimpa putra-putri keluarga lain. Saya berharap dokter lebih berhati-hati dan profesional dalam menangani pasien. Karena itu, saya akan terus perjuangkan mengusut kasus ini untuk mendapatkan penjelasan mengenai penyebab kematian Fali," tegas Ibrahim.

Dinas Kesehatan dan Komisi D DPRD Kota Bekasi yang dianggapnya lebih pro terhadap RS Awal Bros, tidak akan menghentikannya mengusut kasus ini. Kini, ia dan pengacara sudah mengajukan proses hukum ke Polda Metro Jaya. Ia pun sudah mendatangi Komisi IX DPR RI untuk mendapatkan dukungan terkait kasus ini.

Diakhir wawancara, Ibrahim memohon doa dan dukungan masyarakat Bekasi khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya, agar ia diberi kekuatan menjalani semua ini. "Dan semoga keadilan bisa ditegakkan," tutup Ibrahim (br-15/Awi)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+