Tentang Falya 2: Fali Penebar Kebahagiaan

Tentang Falya 2: Fali Penebar Kebahagiaan

Falya Raafani Blegur

Falya Raafani Blegur adalah anugerah. Kehadirannya memberi keceriaan dan kebahagiaan di tengah keluarganya. Begitulah Ibrahim Blegur, ayah Falya, menggambarkan sosok putrinya yang kini telah tiada, diduga menjadi korban malpraktik RS Awal Bros Bekasi.

Baca Bagian 1: Tentang Falya: Kehilangan, Ketidakadilan, dan Perjuangan Ayah

"Dia itu anaknya lucu banget," kenang Ibrahim. Tampak gurat senyum kecil di ujung bibir Ibrahim, meski basah di lapisan matanya tak sembunyikan dukanya. Ia menarik nafas cukup dalam, sebelum akhirnya mulai lagi bicara.

Di usia satu tahun dua bulan,  Fali (panggilan sayang keluarga pada Falya) dikatakan Ibrahim sudah mulai bisa meniru perilaku keluarganya. "Dia sudah mulai ngikutin apa yang dilakukan orang rumah," katanya.

"Remote TV saya kan agak rusak. Jadi kadang harus di pukul-pukulkan dulu supaya berfungsi. Nah, dia itu suka ngikutin kalau lagi pegang remote. Dipukul-pukunya itu remote, lalu diarahkan ke layar TV. Kita (keluarga) itu ketawa geli kalau lihat tingkah lucunya itu." tutur Ibrahim dengan nada sedikit parau.

Kembali Ibrahim menghentikan pembicaraannya. Kali ini lebih lama. Kami menawarkan menghentikan wawancara ini jika ia tak ingin meneruskannya. "Oh, enggak. Enggak apa-apa. Maaf, saya memang sayang banget sama Fali. Jadi saya terpukul banget dengan persitiwa ini. Oiya, silahkan sambil diminum ya," kata Ibrahim sambil menawarkan minuman pada kami.

Ia mulai meneruskan ceritanya. "Fali itu cepat belajar. Kalau ada hal-hal yang tidak boleh disentuhnya, misal kucing, saya biasanya melarangnya dengan menggoyangkan tangan sambil bilang: no no no. Eh, kalau lagi main sama temen-temennya dia sudah bisa mempraktikan itu. Jadi kalau temen-temennya, misalnya mau pegang kucing juga, dia suka ngikutin ngelarangnya dengan menggoyangkan tangannya sambil bilang: no no no. Lucu banget pakoknya" kisah Ibrahim.

Ibrahim juga menceritakan bagaimana Fali di mata tetangganya. "Kalau saya ajak Fali keluar pake kereta dorong, itu tetangga selalu nyapa Fali. Kadang sampe dicubit pipinya saking gemes. Fali juga seneng. Kalau saya ke warung sendiri, itu orang warung suka tanya Fali kemana," tutur Ibrahim.

Perbincangan mulai terasa mengalir. Ibrahim sudah terlihat mampu menguasai dirinya ketika menceritakan keseharian Fali.

Tiba-tiba Ibrahim merogoh kantung celananya, mengeluarkan telepon selularnya. Ia buka folder album, kemudian menunjukan foto-foto yang ada didalamnya. Foto-foto Fali.  

"Usia 10 bulan dia sudah mulai agak jelas panggil saya ayah. Kemarin itu (sebelum meninggal), dia sudah mulai bisa manggil semua anggota keluarga. Yang paling jelas itu kalau dia panggil nenek dan kakak," kata Ibrahim sambil menggeser layar teleponnya menunjukan foto Fali berikutnya.

Setiap foto Fali yang ditunjukannya, Ibrahim menjelaskan dengan baik masa-masa pengambilan foto-foto tersebut. Seperti ketika Fali mulai bisa duduk, Fali memainkan laptop, dan saat Fali bermain dengan kakaknya. 

Sampai pada foto Fali dengan kakaknya, wajah Ibrahim kembali teduh. Suaranya kembali parau seperti tengah menahan tangis. "November itu kakak Fali mau ulang tahun. Kami sekeluarga berencana merayakannya. Kita sudah cari tempat dan pakaian. Fali kelihatan seneng banget. Dia udah sempet pake topi barunya yang rencananya buat dipake di ultah kakak....," kata Ibrahim terputus. Suaranya hampir hilang. (gl-15/Awi)

Bersambung....

Twitter Facebook Google+

Berita Lainnya