Tentang Falya: Kehilangan, Ketidakadilan, dan Perjuangan Ayah

Tentang Falya: Kehilangan, Ketidakadilan, dan Perjuangan Ayah

Blog Single

Falya Raafan Blegur

Dalam satu bulan terakhir, nama Falya Raafani Blegur menjadi perbincangan warga. Tidak hanya di Bekasi, tapi di seluruh penjuru Indonesia. Berbagai media lokal dan nasional merilis berita balita yang diduga menjadi korban malpraktik RS Awal Bros Bekasi ini.

Falya, mengingatkan kita kembali tentang arti kehilangan, keadilan, dan sebuah perjuangan. 

Falya mengingatkan kita tentang bagaimana kehilangan orang tersayang. Falya adalah gambaran begitu sulitnya mendapatkan keadilan di negeri ini. Falya adalah simbol perjuangan seorang ayah yang gigih atas nama cinta pada anaknya.

Sabekasi.com berkesempatan mendapatkan wawancara khusus dengan ayah Falya, Ibrahim Blegur. Sesi wawancara itu tentu bukan perihal mudah baginya. Ia harus kembali mengingat segala hal tentang putrinya yang kini telah tiada. Mengurai kembali memorinya tentang Falya. Dari masa membahagiakan, hingga kehilangan yang menyisakan kepedihan mendalam.

"Dunia seperti runtuh," begitulah Ibrahim menggambarkan kehilangan buah hatinya itu. Ia tak pernah mengira peristiwa itu akan menimpanya. 

"Saya shock. Hancur hati saya," lirihnya. Suaranya sedikit parau ketika mengatakan itu. Matanya menerawang. Ada genangan di sudut mata Ibrahim. Ia diam.

Pada wawancara itu, beberapa kali ia harus berhenti bicara. Ia tampak sedang mengumpulkan kesanggupan untuk menceritakan kenangannya tentang Falya. Sabekasi.com tak berani menyela. Kami membiarkan Ibrahim berbicara ketika ia siap dan bersedia.

Tentang kehilangan, Ibrahim sudah berusaha mengikhlaskannya. Ia mengatakan, dirinya sadar betul bahwa kematian adalah takdir. Tapi, lanjut ibrahim, bukan berarti dia harus berhenti memperjuangkan sebuah penjelasan.

Karena itu, Ibrahim mengaku sakit dan kecewa ketika Anggota Komisi D DPRD Kota Bekasi mengatakan bahwa yang sudah meninggal tidak akan kembali. "Saya tahu itu. Harusnya dia (anggota dewa) itu pahami dulu persoalannya. Saya sudah katakan, saya tidak mau izin praktek dokter yang menangani anak saya di cabut. Saya juga tidak ingin Rumah Sakit di tutup. Saya cuma butuh penjelasan, kenapa anak saya meninggal? Itu saja," tutur Ibrahim.

Pada ucapan anggota dewan itu, dikatakan Ibrahim, ada indikasi dorongan agar ia menghentikan kasus. Pada mediasi dengan DPRD itu juga, pihak kuasa hukumnya tak diperkenankan ikut. Ini membuat Ibrahim kecewa dan menilai DPRD lebih berpihak pada RS Awal Bros.

Dinas Kesehatan (Dinkes) sebagai mediator juga dianggap Ibrahim berpotensi tidak netral. Bagaimana tidak? Kepala Dinkes dikabarkan merupakan salah satu dokter yang praktik di RS Awal Bros. Ada bias kepentingan yang memungkinkan tidak netralnya Dinkes dalam memandang kasus ini.

Namun Ibrahim tak mau berhenti. Ia terus berjuang di tengah sulitnya menemukan keadilan di negeri ini. Ibrahim menunjukan bagaimana seharusnya perjuangan seorang ayah dilakukan. Ia adalah simbol perjuangan para ayah.

Ibrahim mengatakan, apa yang ia perjuangkan adalah agar tak ada lagi Falya lainnya. Ia berjuang agar para dokter dan rumah sakit lebih berhati-hati dan profesional dalam menangani pasiennya. Ia tak ingin apa yang terjadi pada putrinya menimpa putra-putri keluarga lainnya. "Itu misi saya," kata Ibrahim.

Sesi wawancara masuk ke bagian tentang keseharian Falya. Ada ragam ekspresi yang ditunjukan Ibrahim ketika ia bercerita tentang putri kecilnya yang biasa ia sapa Fali itu. Fali, adalah panggilan kesangannya kepada almarhum Falya. (br-15/Awi)

Bersambung...

Share this Post:
Twitter Facebook Google+