30 Tahun Terdampak Sampah Jakarta, Warga Bantargebang Tuntut Ini

30 Tahun Terdampak Sampah Jakarta, Warga Bantargebang Tuntut Ini

Blog Single

TPST Bantargebang

Sabekasi.com, Bantargebang – Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan (AMPP) Bantargebang meminta kompensasi atas munculnya adanya permasalahan lingkungan akibat pengelolaan sampah DKI Jakarta.

Ketua AMPP Abdul Somad mengatakan, warga yang menyuarakan kompensasi tersebut berasal dari tiga kelurahan di Kecamatan Bantargebang yang terkena dampak langsung Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Yakni Kelurahan Cikiwul, Kelurahan Sumurbatu dan Kelurahan Ciketing Udik.

Oleh karenanya, Pemkot Bekasi maupun Pemprov DKI Jakarta harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak sekitar TPST Bantargebang.

"Kami minta pemerintah daerah mendengar keinginan itu. Karena bantuan untuk pendidikan tidak dirasa oleh masyarakat Bantargebang sejak 30 tahun DKI buang sampah di tempat kami," terang Somad seperti dikutip dari Kantor Berita Antara, Kamis (!3/10).

Somad mengatakan, ada lima poin tuntutan yang dilayangkan ke pemerintah daerah terkait kompensasi pendidikan, yakni pembangunan gedung sekolah dari tingkat SD hingga SMA/SMK dengan standar internasional, pembebasan seluruh biaya operasional sekolah, penyediaan sarana angkutan bus sekolah di masing-masing kelurahan, pengadaan program beasiswa untuk siswa berprestasi ke jenjang universitas dan penyelenggaraan program kejar paket A, B dan C secara gratis.

"Selama ini Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) di tingkat kelurahan hanya fokus di sektor pembangunan infrastruktur, seperti jalan, masjid, Posyandu dan sarana umum lainnya. Padahal masih banyak anak-anak di sana yang tidak mendapat pendidikan secara layak," keluh Somad.

Selain itu, uang kompensasi bau yang diterima warga sebesar 300 ribu rupiah per bulan dianggap kurang. "Itu saja dipotong 100 ribu untuk pembangunan infrastruktur, sementara sisa uangnya digunakan untuk keperluan lain seperti membeli air isi ulang karena kualitas air tanah yang tidak bagus,” pungkasnya. (Red)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+