Rumah Tua Cibarusah, Saksi Bisu Perang Kemerdekaan

Rumah Tua Cibarusah, Saksi Bisu Perang Kemerdekaan

Blog Single

Rumah tua yang berada di Kp. Babakan, Desa Cibarusah Kota. (Rah)

Sabekasi.com, Cibarusah - Terlihat kusam dan terkesan seperti tak berpenghuni, membuat rumah tua yang satu ini tampak mencolok dibanding bangunan lainnya di sepanjang jalan raya Cibarusah. Bahkan tak hanya tua saja, rumah yang berada di Kp. Babakan, Desa Cibarusah Kota itu juga kaya akan sejarah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Sabekasi.com, rumah tua tersebut dibangun dibangun sejak tahun 1920an era kolonial Belanda, milik salah satu orang terkaya di Cibarusah saat era kemerdekaan, Habib Hasan Bin Salim Al Attas. Hingga saat ini, rumah tersebut masih dihuni oleh keturunan Habib Hasan Bin Salim Al Attas.

Aminah, putri dari Hasan bin Salim Alattas mengakui bahwa saat agresi 2, rumah milik orang tuanya pernah diduduki oleh Belanda. Diceritakan Aminah, ketika Belanda masuk ke Cibarusah, para pejuang kemerdekaan mengungsi Ke wilayah Anggong Cibarusah. Sedangkan semua penghuni rumah termasuk dirinya ikut mengungsi ke daerah Loji Karawang. Sehingga rumah menjadi kosong dan akhirnya di tempati para prajurit Nederlands Indies Civil Administration (NICA).

Lanjut Aminah, keluarga baru bisa menempati kembali rumah tersebut setelah pasukan NICA meninggalkan Cibarusah. Saat itu rumah ditinggalkan dalam keadaan berantakan dan  disertai banyak ceceran darah di bilik. “Pas Belanda sudah pergi dari rumah ini, kita sekeluarga membersihkannya kembali, ada banyak bekas gincu dan banyak ceceran darah,” terangnya kepada Sabekasi.com, Selasa (26/4).

Tempat Singgah Pejuang Kemerdekaan

Nilai sejarah rumah ini semakin tinggi karena menjadi tempat persinggahan tokoh pejuang kemerdekaan. Seperti Lukas Kustaryo, pejuang legendaris dan salah satu tokoh yang paling dicari Belanda saat perang kemerdekaan.

Aminah mengaku masih ingat betul Lukas Kustaryo dengan pengawalan ketat pasukan Tentara Republik tidur di kamar depan rumah. “Pak Lukas itu orangnya kecil, tapi sorot matanya tajam dan pendiam. Kalau datang biasanya malam dan tidur di kamar depan dengan dua orang pengawal siap siaga mengawal di depan pintu kamar,“ ujar Aminah mengenang.

Bahkan Aminah kerap ikut nimbrung saat Lukas Kustaryo memimpin briefing dengan menggelar peta di atas meja marmer yang masih ada sampai sekarang. “Waktu itu saya masih berusia 8-9 tahunan, jadi suka ikut nimbrung. Walau saya tidak paham, tapi sering ikut nonton Pak Lukas pimpin brefing dengan pakai peta besar di atas meja marmer di kelilingi para pejuang lainnya,” sambung Aminah yang sekarang sudah berusia 81 tahun.

Aminah tidak mengerti dalam rangka apa Lukas Kustaryo sering berkunjung dan menginap di Cibarusah. Karena seingat dirinya, yang menjadi pimpinan pejuang di Cibarusah saat itu adalah Sambas Atmadinata dan Mayor Oking Jayaatmaja.

Sambas Atmadinata saat itu tinggal di rumah sebelah yang sekarang sudah tidak ada lagi. Namun begitu kata Aminah, Sambas Atmadinata setiap mandi tetap saja di rumahnya karena lebih besar dan bersih. “Ya saya sering ambil pasta gigi bekas Pak Sambas, dulu kan belum ada pasta gigi jadi kaya aneh sekali liat pasta gigi atau odol,“ tuturnya.

Menurut Aminah tokoh lain yang pernah tinggal di rumahnya di masa perjuangan adalah Wahono, mantan Gubernur Jawa Timur dan Ketua MPR RI. “Lumayan lama tinggal di sini dimasa perang Kemerdekaan,” ungkap istri dari Camat pertama Cibarusah itu.

Karena banyaknya cerita dan kejadian bersejarah, Disparbudpora Kabupaten Bekasi sudah mendata rumah tersebut sebagai bangunan cagar budaya. Pada tahun 2015 lalu, Tim Pelestari Cagar Budaya Kabupaten Bekasi sempat mendatangi rumah bersejarah itu untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. (Rah)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+