Begini Cerita Tim Perjalanan Mencintai Indonesia di Pulau Rote

Begini Cerita Tim Perjalanan Mencintai Indonesia di Pulau Rote

Blog Single

Tim Perjalanan Mencintai Indonesia di ujung selatan pulau terluar Indonesia, Pulau Ndana, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sabekasi.com - Tepat setelah 50 hari perjalanan, tim Perjalanan Mencintai Indonesia - Bersepeda Melintas Nusantara - telah berhasil mencapai Pulau terselatan Indonesia yaitu Pulau Ndana, salah satu pulau di sekitar Pulau Rote. Demikian disampaikan Muhammad Nurul Jami melalui pesan di aplikasi Whatsapp kepada Sabekasi.com, Jumat (8/9).

Secara umum, Pulau Rote diketahui sebagai ujung selatan Indonesia dengan nama wilayah administratif Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau yang memang berpenghuni dengan 10 kecamatan di dalamnya.

Jika saat ini masyarakat mengetahui Pulau Rote sebagai ujung selatan Indonesia, namun menurut Jami, masih terdapat pulau kecil yang paling selatan lagi, yaitu 'Pulau Ndana'. Pulau itu hanya dihuni oleh Prajurit TNI dari Marinir AD dan TNI AL yang menjaga Pos Perbatasan Garda terdepan Indonesia dengan negara Australia.

“Pulau ini pula, yang merupakan pulau terluar dari kawasan Asia Tenggara,” ungkap Jami.

Waktu dulu, dikatakan Jami, Pulau Ndana sempat diklaim sebagai wilayah Australia. Sebuah helipad (landasan untuk helikopter) sempat dibangun oleh Australia di Pulau Ndana.

“Namun saat ini tetaplah menjadi milik NKRI. Kemudian didirikanlah patung Bapak Jenderal Sudirman yang diresmikan pada tahun 2010 yang merupakan tokoh simbol TNI,” jelas pria asal Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat ini.

Sementara itu, M. Septian Budiman menceritakan, untuk bisa menyebrang ke Pulau Ndana, dirinya bersama Jami ikut serta bersama rekan TNI AD yang akan mengirimkan logistik ke Pulau Ndana dengan menggunakan kapal nelayan dari Pantai Oeseli di Desa Oeseli, Kecamatan Rote Barat Daya.

Desa Oeseli, lanjut Septian, merupakan desa pesisir pantai yang jauh dari keramaian kota Rote yaitu Ba'a. Desa ini hanya teraliri listrik menggunakan genset, dan itupun hanya menyala antara pukul 18.00 s/d 24.00 setiap harinya.

“Airpun hanya didapat dari sumber air yang terdapat disekitar desa Oeseli,” urainya.

Bahkan anak-anak sekolah harus menempuh jarak sekitar 4-5 Km untuk menuju sekolah terdekat yaitu SD N Oeseli. “Pemandangan masyarakat yang cukup memprihatinkan jika sebagai garis depan Nusantara,” tandas Septian.

Sebelumnya diberitakan, Jami dan Septian memulai start perjalanan mengelilingi Indonesia dengan bersepeda sejak 20 Juli 2017 yang lalu dari Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat. Dalam perjalanan ini, mereka berdua membawa misi kampanye pendidikan dan lingkungan hidup. (Sab)

Baca juga: Dua Bocah Bekasi Ini Bakal Kelilingi Indonesia Pakai Sepeda

Baca juga: Solidaritas: Tim Perjalanan Mencintai Indonesia Kibarkan Bendera Palestina

Share this Post:
Twitter Facebook Google+