Pegiat Budaya Angkat ‘Lisung Raksasa’ di Cikarang Pusat

Pegiat Budaya Angkat ‘Lisung Raksasa’ di Cikarang Pusat

Blog Single

Lisung berukuran raksasa yang berhasil diangkat pegiat budaya di Cikarang Pusat. (Facebook)

Sabekasi.com, Cikarang Pusat  - Pegiat Budaya Bekasi yang tergabung dalam Tim Jejak Pewaris Peradaban berhasil mengangkat sebuah lisung berukuran raksasa di muara anak sungai Cibeet, Kp. Parung Lesang, Desa Pasiranji, Kecamatan Cikarang Pusat, Jumat (4/8) pekan lalu.

“Panjangnya sekitar 7 meter dengan diameter lebih dari 1,5 meter. Dengan bantuan alat berat eskavator, butuh waktu tiga jam untuk mengangkat lisung ini. Saat proses pengangkatan, beberapa kali lisung gagal diangkat karena berada di kedalaman 5 meter di bawah lumpur muara anak sungai,” papar pegiat Budaya Ahmad Djaelani dalam keterangan di akun Facebooknya.

Dijelaskan Djaelani, pengangkatan lisung menghebohkan warga sekitar Pasir Ranji dan Pasir Tanjung. Mengingat selama ini, keberadaan lisung yang kerap muncul saat kemarau itu lebih diidentikan dengan mistis ketimbang sebagai asset sejarah.

“Oleh karenanya demi keamanan dan keperluan pengembangan penelitian, lisung “raksasa” kemudian disimpan di Padepokan Galuh Surrawisesa, Paparean Cikarang Pusat. Sejak hari Jumat pula, banyak warga sekitar yang datang melihat karena penasaran,” ujar dia.

Menurut Djaelani, banyak cerita tentang lisung raksasa yang kemudian melegenda di masyarakat. Namun berdasarkan keterangan sepuh Parung Lesang, lisung ini dimanfaatkan terakhir oleh dua generasi di atasnya, yakni di era kakek yang bersangkutan (Sekitar lebih dari 150-200 tahun lalu).

Dilihat secara kasat mata sekarang, lanjut Djaelani, sepertinya lisung tersebut belum selesai dibuat. Sebab baru sebagian saja yang berhasil dilubangi. Terlepas dari itu, memnurut dia, menariknya dari lisung ini media batang pohon besar yang dijadikan lisung. “Sampai saat ini kami belum bisa memastikan jenis pohon apakah yang digunakan untuk lisung,” katanya.

Sementara itu, di beberapa bagian lisung ini sudah terjadi proses “pengkristalan” kayu membatu alias jadi fosil. “Tapi belum merata, masih sebagian kecil. Di beberapa bagian lisung juga terlihat kemunculan serat-serat kayu yang “menyembul” ke luar. Indah dan jadi memiliki daya tarik seni tersendiri,” jelas dia.

Djaelani menambahkan, pihaknya sangat terbuka untuk masyarakat yang ingin melihat dan pihak-pihak yang ingin melakukan penelitian terhadap lisung ini. “Dari pengecekan awal secara mandiri yang dilakukan oleh tim kami yang bekerja di laboratorium kimia, di cek ternyata usia kayu ini sekitar 850 tahun. Namun ini masih awal, semakin banyak yang meneliti, maka harapannya semakin banyak pula data pembanding,” urainya.

Tujuan pengangkatan lisung ini, dikatakan Djaelani, semata untuk penyelematan dan pelestarian asset sejarah. Juga untuk sarana pendidikan generasi dan masa depan Bekasi.

“Kalau tidak buru-buru diangkat, khawatir akan lenyap dan asset sejarah ini akan semakin terkubur dalam. Sebab lokasi keberadaan lisung hanya beberapa meter dari proyek pengembangan kawasan Delta Mas,” tandas Ketua Cibarusah Center ini.

Sebagai informasi, lisung merupakan salah satu jenis perkakas tradisional yang berfungsi sebagai alat untuk menumbuk padi. Lisung dapat berfungsi apabila berpasangan dengan halu. (Sab)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+