Rumah Pelangi, Mewarnai Bekasi dengan Cinta

Rumah Pelangi, Mewarnai Bekasi dengan Cinta

Blog Single

Rumah Pelangi

Sabekasi.com, Sukawangi - Berawal dari mimpi seorang anak muda. Mimpi tentang ruang publik yang disebutnya sebagai 'kampung wisata'. Sebuah area yang dalam gambarannya bisa menjadi tempat rekreasi alternatif bagi masyarakat Bekasi. Sekaligus menjadi ruang belajar tentang banyak hal, terutama bagi anak-anak.

Mimpinya semakin bertumbuh ketika melihat realitas di tempatnya lahir dan dibesarkan, Kampung Babakan. Menurutnya, anak-anak di sana tak memiliki akses informasi yang cukup. Tak banyak yang bisa dilakukan anak-anak usai sekolah. "Kayak terisolir," begitu ia menggambarkan kondisi kampungnya.

Kampung Babakan yang berada di Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, memang bisa dibilang terpencil. Tempatnya di kelilingi sungai dan pesawahan yang membuat akses ke pusat pemerintahan, pendidikan, dan perekonomian harus ditempuh dengan cara berputar. Waktu tempuhnya tak sebentar. Ditambah infrastruktur jalan yang kurang memadai.

Tekad mewujudkan mimpinya semakin kuat manakala melihat perkembangan komunitas di Bekasi beberapa tahun terakhir. Terinspirasi dari beberapa gerakan, temasuk kebudayaan, ia bersama beberapa temannya membentuk sebuah ruang kreasi bernama Rumah Pelangi.

Tulisan-tulisan yang terpasang di dinding bangunan Rumah Pelangi (Foto: Dok. Sabekasi.com)

Minggu (26/3), Sabekasi.com berkesempatan berkunjung ke Rumah Pelangi. Perjalanannya cukup menyita waktu. Selain karena jarak, perjalanan dari Bekasi Timur harus berputar ke Babelan lantaran kemacetan parah yang terjadi di sekitar Karang Congok akibat sebelah jalannya longsor. 

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam, tibalah kami di Rumah Pelangi, yang berada di dekat area pesawahan membentang. Ada pemandangan menarik. Di sana ternyata banyak makam atau kuburan China. Katanya, itu makam orang-orang keturunan Tionghoa yang telah sejak puluhan tahun menetap di sekitar sana.

Di bagian ujung, tepat di bibir pesawahan, tampak semacam letter signage bertuliskan Rumah Pelangi. Huruf-hurufnya besar, warna-warni. Bukan letter signage seperti biasa kita temui di perusahaan besar atau properti. Tulisan itu hasil kreasi anak-anak Rumah Pelangi dari bahan yang seadanya. Tiang setiap hurufnya pun mereka buat dari bambu. Sebagian tampak sudah miring di sana sini.

Meski begitu, letter signage ala mereka itu cukup menunjukan identitas Rumah Pelangi. Selain kemenonjolannya yang menarik perhatian, gagasan Rumah Pelangi tampak di sana. Dari mulai kreativitas, memanfaatkan sumber daya yang ada, dan tentu saja keberagaman yang digambarkan melalui warna-warni.

Letter signage ala anak-anak Rumah Pelangi (Foto: Dok. Sabekasi.com)

Udara siang itu cukup sejuk. Langit masih tampak berawan dan sesekali menjatuhkan rintik hujan membuat tanah di sekitar Rumah Pelangi tampak lembab, sementara sebagiannya terlihat becek. Kami duduk di depan ruang perpustakaan yang berada di paling ujung, dekat pesawahan. Kopi dan Kue Dongkal yang disuguhkan pun seolah melengkapi suasana siang itu di Rumah Pelangi.

Pesawahan membentang menjadi pemandangan yang menyejukan. Seorang petani tampak tengah menyemprot padi. Di bagian ujung mata memandang tampak kebun pisang yang memanjang. Katanya, sebentar lagi di sana akan dibangun jalan tol. "Jadi ntar pemandangannya bukan cuma sawah. Tapi kita bisa liat mobil-mobil lewat jalan tol," kata seorang pembina Rumah Pelangi dalam perbincangan kami.

Pemadangan menarik lainnya adalah kertas-kertas yang ditempel di dinding-dinding bangunan Rumah Pelangi. Tampak tulisan anak-anak di setiap kertas itu. Sebagian besar, tulisan tentang kesan anak-anak berada di Rumah Pelangi. Ada tulisan lepas. Ada juga yang sifatnya puisi.

Tak kalah menarik, botol-botol bekas air meneral bergantungan di bagian depan Rumah Pelangi. Botol-botol itu terisi air dengan warna-warna yang berbeda pula. Katanya, pewarna yang digunakan untuk mewarnai air di dalam botol-botol itu dari sepuhan.

Botol-botol bekas air mineral yang dikreasikan dan digantung di bagian depan Rumah Pelangi (Foto; Dok. Sabekasi.com)

Beberapa saat kemudian, empunya Rumah Pelangi, Muhaidin Darma, akhirnya bergabung bersama kami. Karena ketika kami tiba, ia masih menyelesaikan pekerjaan 'mlester' bagian jalan depan bangunan yang tampak sudah rusak. "Beginilah di sini bang," kata Idin, biasa ia disapa, saat membuka pembicaraan.

Plang tanda proyek pekerjaan jalan Rupah Pelangi :) (Foto: Dok. Sabekasi.com)

Idin pun menceritakan bagaimana awalnya Rumah Pelangi terbentuk. Mimpinya ketika masih anak-anak tentang 'kampung wisata' mulai ia wujudkan bersama teman-temannya dengan melahirkan Rumah Pelangi, Agustus 2016 silam.

Nama Rumah Pelangi dipilih karena menurutnya orang-orang yang terlibat memiliki pandangan dan latar belakang berbeda-beda. "Tapi kayak pelangi, perbedaan itu bisa jadi indah," ujar Idin.

Terkait tempat, Idin menuturkan bahwa area bangunan dan tanah yang digunakan Rumah Pelangi adalah wakaf. "Ini wakaf yang kita coba manfaatkan setelah belasan tahun enggak digunakan. Kebetulan masih keluarga," kisah Idin.

 

Muhaidin Darma, salah satu inisiator Rumah Pelangi (Foto: Dok. Sabekasi.com)

Bangunan Rumah Pelangi terdiri dari beberapa ruangan bekas kelas yang sudah tampak usang. Sebagian ruangan sudah bersih dan digunakan untuk berbagai aktivitas. Seperti ruangan paling ujung yang digunakan untuk perpustakaan. Di sana, tampak anak-anak tengah membaca. Sementara di ruang sebelahnya terlihat anak-anak yang sedang berlatih musik hadroh.

Sekat antara setiap ruangan tampak terbuka. Sehingga, antara ruangan satu dengan lainnya bisa saling terlihat. Siang itu, banyak sekali anak-anak yang melakukan aktivitas di sana.

Aktivitas anak-anak di Rumah Pelangi (foto: Dok. Sabekasi.com)

Perpustakaan di Rumah Pelangi diperkirakan Idin memiliki sekitar l1000 buku. "Seribu mah ada kayaknya. Belum dicek lagi. Sebagian sih udah dinomorin. Tapi karena kemaren banjir, belum diterusin," katanya.

Menurut Idin, Rumah Pelangi menjadi salah satu yang terkena banjir beberapa waktu lalu. Banjir yang menggenangi Rumah Pelangi mencapai sekitar 1,5 meter. Mereka pun harus melakukan evakuasi barang-barang, termasuk buku-buku yang ada di sana.

Buku-buku itu, lanjut Idin, sebagian besar bersumber dari sumbangan. Sebagian lagi dari koleksi pribadinya. Sementara rak buku dikatakannya didapat dari sumbangan seseorang yang sempat berlibur di area Rumah Pelangi.

"Itu ada keluarga yang liburan di sini. Bawa anak-anaknya. Mereka juga bawa tukang dongeng yang dongengin anak-anaknya. Nah rak buku itu dikasih sama mereka," kisah Idin.

Perpustakaan Rumah Pelangi (Foto: Dok. Sabekasi.com)

Rupanya, tak hanya keluarga itu yang pernah berlibur di Rumah Pelangi. Menurut Idin, sempat juga ada anak-anak sekolah yang melajukan camping di situ. Mereka memasang tenda-tenda di area terbuka halamam Rumah Pelangi yang cukup luas. Area terbuka yang dekat dengan pesawahan.

Idin berharap, area Rumah Pelangi itu bisa menjadi salah satu tempat rekreasi alternatif masyarakat Bekasi. Menurutnya, di situ orang bisa mengajarkan tentang tanaman dan lain-lain. Selain itu, keberadaan buku-buku dan alat musik tradisional di Rumah Pelangi juga bisa digunakan sebagai bagian dari aktivitas rekreasi bermanfaat.

"Di seberang juga kan ada Kali Bekasi. Sejarahnya panjang juga kan. Jadi banyak hal di sini yang bisa jadi daya tarik buat wisata," terang Idin.

Sampai di situ, volume suara perbincangan kami pun harus dinaikan. Pasalnya, anak-anak di Rumah Pelangi tengah memainkan alat musik hadroh. Mereka tengan berlatih. Aktivitas yang dikatakan Idin hampir dilakukan setiap hari.

"Mereka memang enggak punya lagi aktivitas lain. Kalau pulang sekolah biasanya mereka ke sini. Ada yang belajar nulis, ngegambar, main musik. Ada juga latihan silat," jelas Idin.

Anak-anak Rumah Pelangi tengah belajar main musik hadroh (Foto: Dok. Sabekasi.com)

Sebelum ada Rumah Pelangi, aktivitas anak-anak di sekitar situ sangat terbatas. Akses terhadap informasi juga dikatakan Idin masih sangat terbatas. Sehingga, anak-anak tak punya banyak pilihan aktivitas untuk dilakukannya, setelah sekolah. Bahkan, setelah lulus sekolah pun, anak-anak di sana tak bisa beraktivitas banyak.

Keberadaan Rumah Pelangi tentu saja disambut positif oleh masyarakat di sana. Anak-anak mereka jadi memiliki aktivitas positif. "Alhamdulillah pada dukung. Malah pas kemaren kita bikin acara, ibu-ibunya ikut bantu masak. Mereka bawa alat masak dari rumahnya masing-masing," tutur Idin.

Keceriaan di Rumah Pelangi sore itu semakin terasa. Hal itu terjadi ketika beberapa anak-anak muncul mengendap-ngendap dari belakang bangunan Rumah Pelangi. Tampak kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya di tangan salah satu dari mereka. Di salah satu ruangan, mereka pun langsung bersorak dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

Adalah Pipit, seorang Koordinator Kelas (Korlas) yang berulang tahun. Suara pun semakin riuh ketika mereka meminta Pipit untuk meniup lilinnya. Usai selfie, Pipit pun mulai memotong kue ulang tahunnya. Meski ukuran potongannya tak merata, tapi semua orang yang ada di situ turut mencicipi kue ulang tahun Pipit.

Keceriaan ulang tahun Pipit di Rumah Pelangi (Foto: Dok. Sabekasi.com)

Ada yang lucu. Pipit merayakan ulang tahunnya ke-17. Tapi lilin yang ada di kue ulang tahunnya angka 2 dan 7. "Cuma itu adanya," ujar Dhiana yang menyiapkan kue ulang tahun sahabatnya itu sambil tertawa.

Masalah angka di kue ulang tahun Pipit tentu saja tak jadi persoalan. Kebahagiaan dalam kebersamaan mereka melampaui semua itu. Malah mungkin, itu akan jadi salah satu hal yang paling dikenang Pipit kelak. Di mana, lilin kue ulang tahunnya yang ke-17 menggunakan angka 2 dan 7.

Doa-doa pun dipanjatkan. Semoga Pipit panjang usia dan sukses selalu. Semoga Pipit dan semua anak-anak di Rumah Pelangi bisa menjadi pribadi-pribadi yang membanggakan. Menjadi orang-orang yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Menularkan gagasan Rumah Pelangi semakin luas. Untuk mewarnai Bekasi dengan cinta. Untuk mewarnai Indonesia dengan karya. (Sab)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+