Bedah Buku Sejarah: Bekasi Sulit Ditembus Belanda

Bedah Buku Sejarah: Bekasi Sulit Ditembus Belanda

Acara bedah buku sejarah Bekasi karya Endra Kusnawan, Minggu (31/7).

Sabekasi.com, Tambun Utara - Kenapa peperangan pada masa perang kemerdekaan selalu terjadi di Jawa?. Apakah di Bekasi tidak pernah terjadi peperangan?. Apakah orang Bekasi penakut ?. Itulah sederet pertanyaan menggelitik di hati Endra Kusnawan selama ini, hingga akhirnya menjadi motivasi bagi dirinya untuk menulis sebuah buku berjudul Sejarah Bekasi: Sejak Peradaban Buni Ampe wayah Gini.

Endra merupakan seorang penulis muda yang juga pemerhati sejarah. "Proses pengumpulan data dihimpun dari berbagai sumber dan melakukan penelitian ilmiah tentang sejarah Bekasi dari era Kerajaan Tarumanagara sampai era Reformasi," kata Endra dalam acara bedah buku di salah satu resto kawasan Villa Mutiara, Tambun Utara, Minggu (31/7).

Setelah melakukan penelitian secara mendalam, Endra menemukan banyak fakta bahwa Bekasi merupakan daerah yang paling sulit ditembus pihak penjajah. “Belanda butuh waktu setahun lebih menembus wilayah Bekasi, bahkan setelah Belanda berhasil masuk wilayah Bekasi, perlawanan pejuang tak pernah berhenti di Bekasi," ujarnya.

Mengaku sadar bukunya akan mengundang kontroversi karena banyak mengangkat fakta-fakta baru, Endra membuka diri untuk dikritik. "Buku ini bukan Al quran, karena itu saya siap dikritik dan membuka diri untuk dikritik oleh siapapun," jelasnya.

Sementara itu, Budayawan Bekasi sekaligus anggota DPR-RI Daeng Muhammad yang hadir dalam acara bedah buku sebagai pembicara mengapresiasi langkah Endra Kusnawan untuk menulis buku tentang sejarah Bekasi ini. Ia pun berharap buku ini menjadi inspirasi bagi warga Bekasi.

“Tidak gampang menulis buku, apalagi setebal ini. Saya mengapresiasi penulisan buku ini dan mudah-mudahan menjadi inspirasi buat warga masyarakat Bekasi," ungkap Daeng.

Daeng menambahkan, generasi muda Bekasi harus siap bersaing dengan siapapun dan unggul seperti para leluhurnya. "Anak macan harus menjadi macan bukan menjadi marmot," tegasnya.

Hadir dalam acara bedah buku ini antara lain penulis buku Endra Kusnawan, Daeng Muhammad dan Pemerhati Sejarah Beny Rusmawan. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh para penggiat sejarah budaya, komunitas dan masyarakat umum. (Rah)

Twitter Facebook Google+

Berita Lainnya