Antara Meikarta, Kali Bekasi, dan Burangkeng

Antara Meikarta, Kali Bekasi, dan Burangkeng

Blog Single

Bagian konten materi iklan Meikarta 

Sabekasi.com - Seringkali yang dilihat dari pembangunan infrastruktur adalah kemanfaatan ekonominya. Atau paling-paling, kemanfaatan penambahan dan perbaikan jalan umum. Tapi tak banyak pembahasan dampak lingkungannya.

Lingkungan memang sering dianaktirikan. Kondisinya jarang diperhatikan. Lihat saja kondisi Kali-kali di Bekasi saat ini. Kotor, bau, malah bisa dibilang menjijikkan.

Secara tak langsung, kali-kali di Bekasi sekarang telah dikuasai. Tak lagi menjadi milik publik. Hanya milik mereka yang punya kepentingan membuang kotoran. Baik kotoran sisa produksi maupun lainnya. Padahal, kali-kali itu dulunya sebagai sumber kehidupan masyarakat Bekasi. Untuk mandi, mencuci, bahkan minum dan memasak. 

MEWACANAKAN ISU LINGKUNGAN MEIKARTA

Mewacanakan isu lingkungan Meikarta merupakan soal penting. Karena jika dampak itu luput dari perhatian, bukan tak mungkin akan menjadi petaka bagi masyarakat Bekasi kelak.

Pertanyaannya sederhana. Kemana sampah rumah tangga Meikarta akan dibuang? Kemana limbah cair Meikarta akan mengalir? Apakah ada perencanaan pengelolaan dampak lingkungan dari Meikarta?

Mencoba mencari jawaban, Tim Sabekasi menelusuri ke situs-situs meikarta.com dan meikartaindonesia.com. Tak ditemukan skema atau rencana pengelolaan sampah dan limbah di sana.

Padahal, untuk sebuah projek super megah, mestinya isu lingkungan menjadi salah satu concern Lippo. Bahkan menjadi keunggulan produk, bagian dari strategi marketing. Karena dalam masyarakat modern, konsep zero waste atau environmental sustainability juga menjadi perihal penting.

NASIB KALI BEKASI DAN BURANGKENG

Dengan asumsi tak ada pengelolaan khusus yang dilakukan Meikarta pada sampah dan limbahnya, tentu saja dampaknya cukup mengerikan. Artinya, Meikarta hanya akan bertumpu pada mekanisme pengelolaan sampah dan limbah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) saat ini.

Padahal, Kali Bekasi yang menjadi muara dari sebagian besar kali-kali di Kabupaten Bekasi kondisinya saat ini saja sudah sangat memprihatinkan. Tak perlu menggunakan penelitian untuk melihat bagaimana tercemarnya air di Kali Bekasi. Semua bisa dilihat dengan kasat mata.

Begitu juga dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng milik Pemkab Bekasi yang saat ini saja sudah mengalami overload. Banyak sampah yang tak bisa diangkut dan dibuang ke Burangkeng yang kemudian berakhir berserakan di pinggir-pinggir jalan.

Baca:
TPA Burangkeng Makin Sempit
Ratusan Ton Sampah Warga Bekasi Tak Terangkut

SAMPAH MEIKARTA PER BULAN BISA CAPAI 3.750 TON

Dengan menggunakan data yang ada, simulasi Tim Sabekasi menemukan, setidaknya Meikarta akan menambah sampah sekitar 3.750 ton per bulan. Hasil simulasi ini menggunakan asumsi minimal dari data-data tersebut.

Pihak Meikarta sudah mempublikasikan, akan membangun sekitar 250.000 unit untuk dijual. Dengan asumsi minimal satu orang per unit, maka akan ada 250.000 orang penghuni Meikarta.

Sementara produksi sampah per orang per hari, menurut data Kementerian Lingkungan Hidup, berkisar antara 0,5kg - 0,8kg. Data yang digunakan pada simulasi ini adalah yang paling minimal, yaitu 0,5kg.

Dengan proyeksi minimal penghuni Meikarta 250.000 orang dan setiap orangnya menghasilkan sampah 0,5kg, maka sampah Meikarta per hari mencapai 125 ton. Artinya, jika rata-rata 30 hari dalam sebulan, maka sampah Meikarta setiap bulannya akan mencapai 3.750 ton.

Jumlah beban lingkungan Meikarta itu baru dari sisi sampah saja dengan asumsi minimal. Belum lagi beban-beban lingkungan lainnya seperti limbah dan polusi udara. Mampukah Bekasi menanggung beban itu? (Redaksi)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+