Meikarta, Dimana Posisi Masyarakat Bekasi?

Meikarta, Dimana Posisi Masyarakat Bekasi?

Blog Single

Materi promosi Meikarta yang menunjukan tagline "The World of Ours". Siapakah 'kita' yang dimaksud dalam tagline itu? (Gambar: google images)

Sabekasi.com - Implikasi sosial, ekonomi, dan budaya pembangunan Meikarta tentu akan sangat besar bagi Bekasi dan masyarakatnya. Keberadaan Meikarta akan berpengaruh terhadap berbagai dimensi kehidupan sosial masyarakat Bekasi.

Dengan total ribuan hektar lahan yang digunakan dan nilai investasi ratusan triliun rupiah, Meikarta tentu bukan sekedar proyek pemukiman biasa. Bahkan mungkin proyek ambisius Lippo ini akan menjadi core peradaban Bekasi. Kunci transformasi kehidupan masyarakat Bekasi ke depan.

Lihat saja nilai investasinya yang mencapai 278 triliun rupiah. Dengan asumsi rata-rata APBD Kabupaten Bekasi per tahun sebesar 5,5 triliun rupiah, maka nilai investasi Meikarta setara dengan 50 tahun APBD Kabupaten Bekasi. Fantastis!

Jika saja pemerintah kabupaten Bekasi yang memiliki anggaran itu tentu akan bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Baik untuk  pembangunan fasilitas publik maupun stimulus ekonomi rakyat.

Tapi tentu dampak kesejahteraan masyarakat dari investasi Rp278 triliun itu tak bisa kita harapkan. Investasi Meikarta adalah bisnis yang orientasinya tentu saja bukan pada kesejahteraan masyarakat. Tetapi pada keuntungan yang arus kemanfaatannya diarahkan sebesar-besarnya bermuara pada pemilik modal.

Klaim Meikarta sebagai saingan Jakarta pun telah didengungkan. Bahkan, Meikarta disebut akan menjadi kota dengan infrastruktur terlengkap di Asia Tenggara. Berbagai fasilitas kesehatan, pendidikan, pusat ekonomi akan berdiri tegak di sana. Pertanyaannya, dimana posisi masyarakat Bekasi?

THE WORLD OF OURS

Pertanyaan posisi masyarakat Bekasi tersebut penting untuk diajukan. Karena salah satu tagline Meikarta yang tampak dalam berbagai materi promosinya berbunyi: 'The Wolrd of Ours' yang kira-kira bisa diterjemahkan menjadi 'Dunia Milik Kita'. Siapakah 'Kita' yang dimaksud oleh Meikarta?

Tentu saja naif jika menganggap 'kita' di sini adalah masyarakat Bekasi. Sebagai bagian dari branding Meikarta, dengan mudah bisa dipahami bahwa 'kita' dalam hal ini adalah target market yang nantinya akan menjadi penghuni Meikarta. Lalu, sekali lagi, dimana posisi masyarakat Bekasi di Meikarta?

Apakah masyarakat Bekasi sebagai market Meikarta yang akan menikmati berbagai fasilitas super mewahnya? Peluang itu terbuka. Tapi melihat harga unit Meikarta dan kemampuan ekonomi sebagian besar masyarakat Bekasi, kita bisa membuat kesimpulan sementara bahwa itu tak mungkin. Artinya, bukan sebagian besar masyarakat Bekasi yang akan menikmati kemewahan Meikarta.

Lalu, apakah masyarakat Bekasi akan menjadi bagian dari pelaku ekonomi yang bisa memanfaatkan Meikarta sebagai pasarnya? Baik dalam konteks sebagai penjual jasa (kerja) maupun barang. 

Pada titik ini, kita dihadapkan pada pertanyaan, sudahkah masyarakat Bekasi siap dengan standar kerja dan barang yang bisa masuk di Meikarta? Apakah barang yang bisa diproduksi masyarakat Bekasi memiliki standar yang sesuai dengan Meikarta dan penghuninya? Apakah skill masyarakat Bekasi sesuai dengan standar yang dibutuhkan di Meikarta?

Pertanyaan-pertanyaan itu tentu penting untuk didalami oleh semua elemen masyarakat Bekasi, terutama pemerintah daerah. Karena jika tak disiapkan, masyarakat Bekasi bisa saja menjadi korban ambisi pembangunan Meikarta. Bahkan mungkin akan tergeser karena tidak relevan dengan kehidupan Meikarta yang hampir pasti akan menjadi core peradaban Bekasi ke depan.

Jangan sampai pada akhirnya masyarakat Bekasi hanya bisa menatap angkuhnya Meikarta yang berdiri menantang dalam kemiskinan dan ketidakberdayaannya. Semoga tidak! (Redaksi)

Baca juga:
MEIKARTA DAN MASA DEPAN WARGA BEKASI
MEIKARTA DAN NEOPARTIKELIR?

Share this Post:
Twitter Facebook Google+