Meikarta dan Masa Depan Warga Bekasi

Meikarta dan Masa Depan Warga Bekasi

Blog Single

Bagian konten materi iklan Meikarta 

Sabekasi.com - Meikarta. Nama itu jadi perbincangan hangat di Bekasi dalam beberapa bulan terakhir. Tak hanya dalam diskusi-diskusi formal, tetapi juga dalam 'obrolan warung kopi'.

Meikarta tentu bukan sekedar nama. Bukan juga sekedar kota yang akan dibangun Lippo di daerah Cikarang. Meikarta bisa jadi sebuah peradaban yang akan berpengaruh besar terhadap masa depan Bekasi dan warganya.

Dari sejumlah pernyataan pers, pihak Lippo menyebutkan projek raksasa ini akan dibangun di atas tanah seluas total 2.200 hektar dengan nilai investasi Rp278 triliun. Akan ada 100 gedung pencakar langit yang masing-masing bertingkat antara 35 - 46 lantai.

Di kota yang diklaim akan memiliki infrastruktur paling lengkap di Asia Tenggara itu disebutkan akan dibangun tujuh pusat perbelanjaan, pusat kesehatan dan rumah sakit internasional, pusat keuangan internasional, dan 10 hotel internasional berbintang lima.

Membayangkan bagaimana Meikarta berdiri tentu sangat kontras dengan kehidupan maayarakat Bekasi pada umumnya. Terutama mereka yang berada di ambang garis kemiskinan seperti yang masih tersebar di sejumlah tempat di Kabupaten Bekasi. Jika tanpa kebijakan progresif, hampir pasti ketimpangan akan jelas terlihat nanti.

Siapa Penghuni Meikarta?

Hal lain yang penting dari pernyataan pers Lippo adalah jumlah orang yang disebutkan bisa ditampung di Meikarta. Di mana dengan target 250 unit, Meikarta diproyeksikan akan menampung sekitar 1 juta penduduk. Jumlah yang fantastis. Itu belum termasuk penduduk yang diklaim bisa ditampung di 400.000 rumah, yakni 2 juta orang. 

Sepanjang tidak melanggar peraturan dan mampu membeli, tentu siapa pun bisa menjadi penghuni Meikarta. Tapi jika melihat harga tanahnya yang dipatok mulai Rp12,5 juta per meter, tentu hanya mereka yang berpendapatan tinggi yang akan mampu membeli hunian itu.

Wacana itulah yang di antaranya mengemuka dalam perbincangan terkait Meikarta di beberapa diskusi. Muncul pertanyaan-pertanyaan kritis. Siapa yang akan jadi penghuni Meikarta? Bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat Bekasi? Apakah Meikarta secara perlahan akan menyingkirkan masyarakat Bekasi?

Meikarta dan Kekuasaan Politik

Wacana lain yang mengemuka adalah implikasi proyeksi jumlah penghuninya terhadap Pilkada. Di mana, sistem politik elektoral yang kita anut adalah jumlah suara.

Jika melihat Pilkada lalu, Neneng Hasanah Yasin hanya memerlukan sekitar 450 ribu suara untuk menang. Artinya, jika nanti Meikarta telah berpenghuni, siapa pun bisa menang Pilkada hanya dengan menguasai suara di Meikarta.

Kegelisahan dan kekhawatiran itu tentu wajar. Sebagai masyarakat yang telah hidup dan mencari hidup di Bekasi tentu tak ingin ada situasi yang merugikannya, baik secara politik, ekonomi, maupun budaya. Karena bisa dibayangkan jika kekuatan modal dan politik dikuasai oleh satu pihak. Hampir pasti akan melahirkan masyarakat lemah yang tertindas.

Negara dalam Negara

Pernyataan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar sebagai responnya atas aktivitas Lippo yang sudah jor-joran menawarkan Meikarta sebelum mengurus perizinan ke provinsi perlu menjadi catatan. Deddy menilai Lippo seperti ingin membuat Negara di dalam Negara.

Senada dengan itu, Pemerintah Kabupaten Bekasi juga sempat membuat pernyataan bahwa beberapa perizinan pembangunan Lippo belum rampung. Artinya, Lippo telah mengabaikan pemerintah sebagai representasi Negara. Maka pertanyaannya, jika pemerintah dan peraturan saja dilanggar, bagaimana dengan rakyat?

Di atas itu semua, wacana Meikarta perlu menjadi perhatian serius semua elemen masyarakat Bekasi. Karena bagaimana pun, Meikarta akan berpengaruh signifikan terhadap masa depan Bekasi dan warganya. (Redaksi)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+