Refleksi 66 Tahun Kabupaten Bekasi, Sebuah Catatan Kelam

Refleksi 66 Tahun Kabupaten Bekasi, Sebuah Catatan Kelam

Blog Single

Selamat hari jadi Kabupaten Bekasi ke-66 (Sabekasi.com)

Sabekasi.com - Enam puluh enam tahun sudah Kabupaten Bekasi menjadi wilayah adminsitrasi sendiri. Sebuah proses panjang demi mewujudkam cita-cita masyarakat Bekasi yang makmur dan sejahtera. Begitulah kira-kira diantara harapan para pejuang Bekasi ketika memutuskan untuk memisahkan diri dari Jatinegara, 66 tahun silam.

Adalah K.H. Noer Ali yang menjadi salah satu pelopor pemisahan diri Kabupaten Bekasi dari Jatinegara. Gagasannya mulai ia lakukan dengan mengumpulkan berbagai kalangan di alun-alun Kota Bekasi, pada 17 Januari 1950 silam. Di sana, ia kobarkan semangat untuk menentukan nasib Bekasi sendiri. Sebuah cita-cita besar yang dilandasi kecintaannya pada Bekasi.

Gagasan-gagasan dan semangat K.H Noer Ali tentu perlu menjadi catatan penting refleksi 66 tahun Kabupaten Bekasi. Gagasan dan semangatnya harus terus dihidupkan, tentu dengan penyesuaian, agar langkah yang diayunkan selaras dengan apa yang menjadi tujuan dasarnya.

Meneladani kepeloporan, patriotisme, dan nasionalisme yang ditunjukan K.H. Noer Ali, baik dalam merebut kemerdekaan maupun mengisi kemerdekaan, tentu harus dipahami dalam konteks hari ini. Namun nilai yang terkandung dalam dimensi-dimensi juang K.H. Noer Ali tentu masih perlu menjadi acuan dalam pengambilan kebijakam yang memiliki implikasi terhadap masyarakat Bekasi.

Baca: Iktibar K.H Noer Ali

Tentu menjadi ironi-ironi yang monohok ketika pembangunan yang diagung-agungkan, sementara masih banyak warga yang kesulitan mendapat akses pendidikan, kesehatan, dan penghidupan.

Ironis, ketika Kabupaten yang memiliki kawasan industri terbesar di Asia Tenggara tak mampu menyelesaikan masalah pengangguran. Dimana, catatan terakhir pengakuan Wakil Bupati Bekasi menunjukan lebih dari 10% warga Bekasi masih menganggur. 

Ironis, ketika lebih dari satu triliun rupiah APBD tak bisa diserap, sementara masih banyak warga yang kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan. Hak hidup sehat sebagai hak dasar manusia pun belum lah bisa dipenuhi.

Ironis, ketika pendidikan sebagai fondasi pembangunan karakter manusia, sementara masih banyak sekolah tidak memiliki fasilitas yang memadai. Tak ada perpustakaan. Tak ada laboratorium. Gaji pengajar pun masih terbilang belum layak.

Ironis, ketika pembangunan gedung-gedung tinggi, perumahan-perumahan mewah, pabrik-pabrik megah, sementara warga Bekasi hanya merasakan dampaknya. Banjir yang hampir menjadi langganan. Macet yang menjadi keseharian. Dan lingkungan yang kian terkontaminasi.

Ironis, ketika Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dijadikan indikator sukses, sementara masih banyak warga yang tidak menikmati kesejahteraan psikologisnya. Catatan Bekasi Institute menunjukan, rata-rata setiap bulan ada warga Bekasi yang meninggal bunuh diri dalam 7 bulan terakhir.

Ironi-ironi itu seharusnya menjadi tamparan bagi para pemangku kebijakan di Kabupaten Bekasi. Pembangunan yang diagungkan nyatanya tidak selaras dengan semangat keadilan dan konsep berkelanjutan. Pembangunan lingkungan dan manusia jauh tertinggal oleh pembangunan infrastruktur.

Hari jadi Kabupaten Bekasi ke-66 ini harus menjadi momen penting untuk melakukan evaluasi. Melihat kembali apa yang menjadi tujuan dan cita-cita para pejuang Bekasi ketika mengusir penjajah dari tanah Bekasi dan memisahkan diri dari Jatinegara. Maka, meneladani dimensi dan nilai juang K.H Noer Ali beserta para pejuang Bekasi lainnya menjadi poin penting dalam pembuatan kebijakan ke depan. Agar tujuan masyarakat Bekasi makmur dan sejahtera dapat diwujudkan. (Red)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+