Soal Pemilihan Rektor Unisma, Pusaka Nilai Perlu Dikaji Ulang

Soal Pemilihan Rektor Unisma, Pusaka Nilai Perlu Dikaji Ulang

Blog Single

Ilustrasi: Aksi demo Aliansi Mahasiswa Unisma Bekasi (AMUK) di gedung rektorat tahun 2012 (Foto: Widya Darma)

Sabekasi.com, Bekasi Timur - Rencana pergantian Rektor Universitas Islam '45' (Unisma) Bekasi kembali menual kontroversi dari Civitas Akademika Unisma Bekasi. Pasalnya, hingga saat ini pelaksanaan pemilihan rektor masih tidak melibatkan mahasiswa.

Mantan Sekretaris Jenderal Pusat Kajian Pancasila (Pusaka) Unisma Bekasi, Sayyidud Dlu'afa menyebutkan, pemilihan rektor di Unisma saat ini bukan tidak transparan. Ia menilai, isu pergantian rektor sudah menjadi bagian dari transparasi. Namun, dikatakanya hanya metodenya saja yang perlu diperbaiki.

"Pemilihan rektor ini bukan tidak transparan kalau gak transparan gak mungkin ada isunya. Jadi isu soal pergantian rektor ini sudah menjadi bagian dari transparasi. Cuman metode pemilihannya itu yang perlu kita kaji bersama. Bagaimana proses metode pemilihannya," jelas Syyaidud kepada Sabekasi.com, Jumat (7/5).

Syyaidud menambahkan, dalam perkara ini mahasiswa harusnya dilibatkan. Sebab dikatakanya, mahasiswa juga memiliki kapasitas untuk menentukan siapa pemimpinnya.

"Dalam hal ini mahasiswa jangan cuman menuntut transparasi. Harus didorong juga untuk terlibat penyeleksian calon rektor baru. Proses inilah yang menentukan Unisma kedepan," ujarnya.

Lebih lanjut, pria yang kerap disapa Idud juga mengatakan, Objektivitas pemilihan perlu melibatkan mahasiswa dalam menentukan pemilihan rektor. Dalam sudut pandang market, dikatakanya mahasiswa adalah custamer, dan jajaran rektorat merupakan sebagai pelayan publik. 

"Ajak mahasiswa bekerjasama dalam membangun Unisma. Siapapun yang terpilih nanti ada beberapa hal yang menjadi poin penting untuk rektor. Pertama sistem adminitrasi perkukiahan harus lebih efisien. Kedua, sistem pembayaran. Ketiga, fasilitas sosial dan fasilitas umum. Fasilitas sosial disini sarana prasarana yang menunjang perkuliahan. Fasilitas sosial masalah lahan terbuka serta spot mahasiswa untuk berdiskusi," tutup Syyaidud.

Sementara, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unisma Bekasi, Ahmad Nasrudin Yahya ikut menyayangkan soal ketidak keterbukaannya dalam pemilihan pimpinan rektorat. 

"Ketika pemilihan ini secara tertutup tanpa melibatkan mahasiswa apa yang akan terjadi ketika terpilih, programnya apa?" paparnya mempertanyakan proses pemilihan.

Pria yang sering disapa Yahya, menilai pemilihan rektor saat ini seperti warisan. Ketika masa periode sudah habis, dikatakannya, sudah ada ancang-ancang yang akan menggantikannya.

"Jangan sampai menunggu seleksi alam baru menerima, harus dari awal adanya skema melahirkan pemimpin yang dibutuhkan mahasiswa. jangan sampai pemilihan ini hanya menguntungkan segelintir kelompok elit birokrat," tutup Yahya. (Dit)

Share this Post:
Twitter Facebook Google+