Macet dan Banjir Masih Teror Bekasi

Macet dan Banjir Masih Teror Bekasi

Sabekasi.com - Macet dan banjir menjadi persoalan serius Bekasi. Dua masalah yang tak kunjung berhasil diselesaikan Pemerintah Daerah (Pemda). Warga Bekasi seolah dipaksa untuk menerima hidup dengan dua persoalan tersebut.

Ketika musim penghujan tiba, warga Bekasi pun mulai dihantui rasa khawatir. Terutama mereka yang daerahnya menjadi langganan banjir. Mereka harus berkemas mempersiapkan diri, jika sewaktu-waktu banjir datang. Ketenangan hidup pun menjadi barang mahal yang sulit untuk dijangkau.

Berangkat dan pulang kerja pun menjadi beban psikologi tersendiri bagi masyarakat Bekasi. Terutama mereka yang harus bekerja melewati sejumlah titik langganan macet. Tak hanya itu, liburan akhir pekan pun hampir pasti diganggu oleh kepadatan jalan raya yang tak lagi mampu menampung jumlah kendaraan.

Solusi Pemda Parsial dan Insidental

Persoalan macet dan banjir Bekasi itu nyata. Realitas itu terus saja terjadi di Bekasi. Sementara belum ada langkah serius yang dilakukan Pemda untuk mengatasinya. Solusi-solusi yang muncul sifatnya parsial dan insidental. Tak berhasil melahirkan solusi jangka panjang, ke akar persoalannya.

Terkait banjir, solusi yang muncul hanya bagaimana menambah alat-alat penyedot air untuk mengurangi genangan. Atau yang paling populer dan seksi sebagai komoditas politik adalah bantuan mie instan dan baju bekas.

Begitu juga solusi macet yang hanya dibebankan kepada pihak kepolisian. Rekayasa lalu lintas menjadi andalan. Pembangunan jalan baru kalah cepat dengan gedung-gedung tinggi dan perumahan yang tumbuhnya bak jamur di musim hujan. Infrastruktur jalan pun seperti tergopoh mengejar pertumbuhan penduduk dan kendaraan yang merupakan konsekuensi dari menjamurnya properti.

Bisakah Bekasi Bebas Macet dan Banjir?

Berharap Bekasi bisa bebas banjir dan macet seperti utopia. Macet dan banjir seolah dibiarkan menjadi nasib masyarakat Bekasi. Padahal, di sana ada tanggung jawab besar Pemda untuk mengatasinya. Namun harapan bebas macet dan banjir seolah enggan tumbuh. Karena salah satunya, Pemda tak menunjukan kerjanya bisa diharapkan.

Hampir tidak ada program komprehensif untuk mengatasi dua persoalan itu. Tak pernah terdengar ada program yang dijalankan secara serius dan konsisten untuk mengatasinya. Moda transportasi masal dan tata kelola sungai/kali yang dipercaya sebagai solusi jangka panjang belum dilirik. Jika pun ada, semua tak lebih dari sekedar wacana. Tak ada langkah konkret untuk berupaya sekeras-kerasnya merealisasikan hal itu.

Jika berkaca pada sejarah, Kali Bekasi adalah sebuah mahakarya yang patut diteladani. Di mana, berdasar Prasati Tugu, Sungai Candrabhaga yang kemudian dipercaya sebagai Kali Bekasi, telah dibangun oleh Maharaja Purnawarman di abad ke-4. Artinya, di era itu telah ada sebuah megaproyek tata kelola air.

Jika kita menengok ke daerah lain, penanganan macet dan banjir salah satunya berhasil dilakukan Tri Rismaharini, Walikota Surabaya. Keberhasilan perempuan yang akrab disapa Risma tersebut bisa menjadi refleksi. Dari mulai mengelola sungai, memastikannya tidak kotor dan tersumbat, hingga menggenjot lahan terbuka hijau untuk resapan air.

Tak hanya itu, empati Risma sebagai pemimpin juga telah diapresiasi banyak pihak. Ia berani turun ke lapangan, bersama warga membersihkan gorong-gorong. Ia sanggup tak tidur untuk memastikan warganya tak kebanjiran.

Dua refleksi itu setidaknya memberi keyakinan pada kita, masyarakat Bekasi, bahwa Bekasi bebas macet dan banjir bukanlah utopia. Semua mungkin terjadi. Kuncinya ada pada kepemimpinan, seperti ditunjukan Maharaja Purnawarman dan Walikota Surabaya Risma. 

Tapi tentu masyarakat Bekasi tak boleh berdiam diri. Partisipasi menjadi kunci, di tengah kinerja Pemda yang belum bisa diharapkan. Termasuk untuk mendorongnya melahirkan kebijakam konkret dalam mewujudkan Bekasi bebas macet dan banjir. Karena macet dan banjir Bekasi tak boleh jadi tradisi. Macet dan banjir tak boleh terus menjadi teror yang menghantui masyarakat Bekasi. (Red)
 

Twitter Facebook Google+

Editorial Lainnya