Idul Fitri Bukan Sekedar Seremoni

Idul Fitri Bukan Sekedar Seremoni

Selesai sudah Ramadhan tahun ini. Sepanjang bulan, umat muslim menguji diri. Dari segala goda duniawi. Belajar mengendalikan diri. Mendekatkan diri pada zat Ilahi.

Idul Fitri pun datang sebagai tanda Ramadhan berakhir. Ada tradisi dan seremoni yang selalu menjadi bagian hari besar umat muslim ini. Takbir keliling. Tetabuh bedug. Pawai obor. Saling berkunjung. Dan sebagainya.

Namun tentu Idul Fitri tak sekedar tradisi. Juga tak sekedar seremoni. Ada esensi untuk dimaknai. Dalam hubungan dengan sesama manusia dan sang pencipta.

Hubungan manusia dengan ilahi sifatnya personal. Bukan untuk didiskusikan. Biarkan tetap jadi urusan pribadi. Antara ciptaan dan sang pencipta.

Dalam konteks hubungan sosial, ada ruang saling bermaafan. Ini pun tentu bukan sekedar saling ber-broadcast pesan. Tapi kesungguhan niat meminta maaf dan memaafkan.

Di balik itu semua, Ramadhan selalu menjadi pengingat kita. Bahwa kita manusia. Bahwa kesalahan adalah nyata. Bahwa kita tak sempurna. Bahwa hidup hanya sementara.

Ramadhan juga menjadi ajang kita. Belajar semakin memahami diri. Belajar saling berbagi. Belajar mengendalikan diri. Belajar saling mengasihi. Belajar memperbaiki diri. Dan berbagai pembelajaran lainnya.

Karenanya, Idul Fitri bukan hanya petanda akhir Ramadhan. Tetapi juga sebagai titik kembali mengawali. Memulai langkah baru. Dengan berbekal pelajaran yang telah kita petik sepanjang Ramadhan. Semoga menjadi lebih baik. (Red)

Twitter Facebook Google+

Editorial Lainnya