May Day: Demonstrasi sebagai Alat Perjuangan

May Day: Demonstrasi sebagai Alat Perjuangan

Sabekasi.com - Demonstrasi sebagai instrumen politik warga telah menorehkan catatan sejarah panjang. Perannya sangat signifikan dalam perkembangan sosial, terutama terkait perjuangan hak-hak warga. 

Dalam perjalanan sejarah, hak-hak warga hampir tidak pernah diberikan secara sukarela. Warga harus memperjuangkannya sendiri. Merebutnya dari para penguasa lalim, baik pemilik modal maupun sistem. Hal ini dilakukan, diantaranya melalui aksi massa.

Kesadaran pada segala sesuatu yang kemudian disebut sebagai hak warga pun terus berkembang. Hal yang dulu dianggap pemberian, kemudian disadari sebagai hak. Hak sebagai manusia. Hak sebagai pekerja. Dan sebagainya.

Kesadaran perubahan makna tersebut sangat penting. Jika hak dianggap sebagai pemberian, maka memberikannya tidak menjadi kewajiban. Pada poin inilah peran instrumen politik warga, seperti demonstrasi, sangat penting dalam rangka memperjuangka haknya.

Wacana pemerintah yang meminta buruh untuk tidak demonstrasi pada May Day (hari buruh internasional), menjadi catatan penting dalam perjalanan demokrasi bangsa Indonesia. Ada indikasi pemerintah ingin menggeser makna demonstrasi sebagai alat politik menjadi sebagai sesuatu yang tidak lebih bermanfaat dari kegiatan bakti sosial. Padahal bagi buruh, demonstrasi merupakan alat perjuangan untuk memperoleh hak-haknya sebagai pekerja.

Disadari atau tidak, wacana yang digulirkan pemeritah tersebut berpotensi mereduksi makna demonstrasi menjadi sekedar peristiwa (event). Padahal ada nilai yang dibawa dalam demonstrasi. Diantaranya perjuangan hak-hak warga.

Nilai demonstrasi, baik sebagai alat perjuangan warga maupun sebagai kontrol kebijakan, penting untuk dipertahankan. Karena perjuangan hak warga, kontrol kebijakan, dan kritik hanya mungkin ditiadakan di Negara yang maha paripurna. (Red)

Twitter Facebook Google+

Editorial Lainnya