Calon Independen dan Deparpolisasi

Calon Independen dan Deparpolisasi

Ilustrasi

Sabekasi.com - Istilah deparpolisasi menjadi wacana hangat dalam diskusi politik akhir-akhir ini. Hal ini sebagai respon partai politik terhadap sikap sejumlah Bakal Calon (Balon) independen yang menolak ajakan maju melalui jalur partai. Sebut saja Basuki Tjaja Purnama yang akan maju di Pilkada DKI Jakarta dan Obon Tabroni di Pilkada Kabupaten Bekasi.

Sejumlah partai politik mendorong isu ini dengan argumentasi potensi calon independen akan merusak tatanan demokrasi Indonesia. Semakin menguatnya dukungan publik terhadap calon independen dianggap akan mengerdilkan peran partai politik. Implikasinya, peran partai politik sebagai perwakilan rakyat akan tereduksi.

Argumentasi yang cenderung berbasis pada kepentingan eksistensi partai itu dengan mudah dinilai publik sebagai upaya menjegal calon dan bakal calon independen. Bahkan, tak sedikit yang menilai sebagai bentuk ketidakmampuan partai bersaing secara terbuka untuk memperoleh dukungan publik.

Dengan semakin menguatnya dukungan publik terhadap calon independen memang menjadi ancaman bagi eksistensi partai politik. Bukan tidak mungkin akan mereduksi jumlah partai politik di Indonesia. Tapi, benarkah kondisi ini akan merusak tatanan demokrasi Indonesia?

Jika melihat eksistensi partai politik sebagai tujuan, maka jawabannya adalah benar. Tapi jika basisnya pada kepentingan yang lebih besar, justru sebaliknya. 

Kehadiran calon independen merupakan upaya koreksi terhadap kinerja partai politik sebagai wakil rakyat. Karena koreksi adalah sendi demokrasi. Karenanya, jika instrumen koreksi ini dihilangkan, maka demokrasi kehilangan jatidirinya sebagai sebuah sistem.

Upaya koreksi kinerja partai oleh calon independen juga sudah terbukti baik. Menguatnya dukungan terhadap calon independen bisa dimaknai sebagai bentuk menurunnya kepercayaan publik terhadap partai politik. Namun, alih-alih mengoreksi diri, partai politik justru bermanuver untuk sekedar mempertahankan eksistensinya.

Beruntung, rakyat Indonesia sudah semakin cerdas. Rakyat Indonesia tak lagi bisa dibodohi oleh manuver politik murahan. Maka, jika partai politik meneruskan upayanya menghambat calon independen, justru dukungan publik terhadap calon independen akan semakin menguat. (Red)

Twitter Facebook Google+

Editorial Lainnya