Bekasi Smart City, Sebuah Agenda Besar

Bekasi Smart City, Sebuah Agenda Besar

Ilustrasi (Sabekasi.com)

Akhir-akhir ini, istilah Bekasi Smart City sering mengemuka dalam wacana media maupun diskusi publik Bekasi. Tapi, apa sebetulnya Bekasi Smart City (BSC) itu?

Jika dipandang sebagai agenda, maka BSC pastilah agenda besar Kota Bekasi. Dimana, penataan Bekasi sebagai kota maupun peradaban, akan sangat dipengaruhi konsep-konsep BSC.

Akan seperti apa Kota Bekasi beberapa dekade ke depan? Akan seperti apa masyarakat Kota Bekasi di masa mendatang? Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu bisa ditelusuri diantaranya melalui konsep-konsep BSC.

Smart City Alias Kota Cerdas

Dalam pengertian paling sederhana, Smart City alias Kota Cerdas bicara soal bagaimana kehidupan masyarakat ditingkatkan dengan dan melalui teknologi.

Teknologi, dalam hal ini, menjadi jantung Kota Cerdas. Karena gagasan itu lahir dari pemikiran mereka yang bergelut di bidang teknologi. Sehingga, gagasan dasarnya bisa dipahami sebagai upaya pemanfaatan teknologi dalam membangun kehidupan perkotaan. Dengan asumsi, perkotaan perlu penataan mengingat persoalan yang tengah dan akan dihadapi.

Setidaknya ada dua isu disini. Pertama, apakah Kota Cerdas harus selalu berorientasi teknologi? Kedua, peningkatan kehidupan masyarakat yang bagaimana yang diharapkan terjadi dengan gagasan Kota Cerdas ini?

Isu pertama berhubungan dengan landasan program kerja. Dimana, program haruslah menjawab persoalan yang sedang dan akan dihadapi. Sehingga tidak sekedar mencocok-cocokan proyek teknologi dengan memunculkan persoalan yang tingkat urgensinya rendah.

Tingkat urgensi ini penting. Karena jika sekedar berbasis pada perlu dan tidak, semua program mungkin perlu. Tapi jika berbasis pada tingkat urgensinya, rasional program menjadi relevan dengan persoalan.

Isu kedua, peningkatan kualitas hidup masyarakat yang diharapkan. Ini harus mampu diterjemahkan dengan jelas beserta ukuran pencapaiannya. Aspek kehidupan masyarakat yang mana saja yang akan ditingkatkan? Bagaimana mengukur keberhasilannya? Apakah hanya sampai output atau outcome?

Selain itu, faktor sosio-kultural Bekasi harus dilibatkan sebagai pertimbangan program. Sehingga, konsep Kota Cerdas tidak mengadopsi mentah-mentah dari kota lain yang secara sosio-kultural berbeda dengan Bekasi.

Perihal-perihal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi para konseptor BSC. 

Dua Elemen Utama Kota Cerdas

Ada dua elemen utama dalam Kota Cerdas, yaitu lingkungan dan manusia. Lingkungan di sini diartikan secara luas, sebagai segala sesuatu yang menunjang kehidupan manusia dan dirinya sendiri. Bisa alam. Bisa juga segala ciptaan manusia untuk menunjang kehidupan, termasuk sarana dan prasarana.

Dalam konsepsi Kota Cerdas, bisa jadi tidak ada prioritas dari kedua elemen itu. Artinya, keduanya harus dijalankan secara pararel. Ini juga berarti tidak ada yang boleh dikesampingkan. 

Peningkatan kualitas lingkungan harus sejalan dengan peningkatan kualitas atau kecerdasan manusianya. Sehingga, tidak terjadi ketimpangan. Seperti beberapa program yang terjadi saat ini.

Contoh sederhana, Jembatan Penyeberangan Orang yang tidak dimanfaatkan warga. Hal ini diindikasikan karena rendahnya kesadaran warga dan tidak adanya atau tidak ditegakkannya instrumen kebijakan terkait.

(Baca: Tak Ada Aturan Jelas, Kesadaran Warga Bekasi Gunakan JPO Rendah)

Agenda Bekasi, Bukan Agenda Pemkot Bekasi

BSC harus dipahami sebagai agenda Bekasi, bukan agenda Pemkot Bekasi. Sehingga keterlibatan dan partisipasi warga Bekasi dalam hal ini menjadi penting. Karena kebijakan dan program BSC akan berimplikasi besar terhadap peradaban Bekasi ke depan. Dimana, nantinya warga Bekasi bisa diuntungkan atau bisa jadi justru dirugikan konsep BSC yang dikembangkan hari ini.

Mendukung Pemkot Bekasi dalam merencanakan dan menjalankan program BSC tentu penting. Tapi memastikan rencana ini sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik warga Bekasi sama pentingnya. Karena itu, mengawal perencanaan, kebijakan, dan program BSC menjadi agenda penting seluruh warga Bekasi. (Red)
 

Twitter Facebook Google+

Editorial Lainnya