Dua Hari Raya dalam Dua Realitas

Dua Hari Raya dalam Dua Realitas

Ilustrasi

Dalam satu minggu ini, dua hari raya berlangsung hampir bersamaan. Perayaan Natal bagi umat Kristiani dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bagi umat Muslim.

Selama hari-hari tersebut, ada beberapa situasi sosial yang mengemuka. Kemacetan misalnya. Di Bekasi, terutama dari arah barat menuju timur, jalanan hampir lumpuh total. Tidak hanya di jalur biasa, tetapi juga di jalan tol. Jalanan disesaki para pemudik dan mereka yang bertujuan berlibur ke luar kota.

Kepadatan lain juga tampak di berbagai pusat perbelanjaan dan hiburan di Bekasi. Warga Bekasi seperti tak mau sia-siakan waktu liburnya. Mereka berbondong-bondong memenuhi mal-mal. Ada yang berbelanja, nonton film, hingga sekedar menikmati kuliner bersama keluarga.

Kondisi-kondisi tersebut bisa dimaknai dalam ragam perspektif. Misalnya, ketertinggalan pembangunan infrastruktur oleh pertumbuhan jumlah kendaraan. Bisa juga sebagai indikator geliat perekonomian yang masih positif.

Namun situasi itu juga menunjukan makna lain. Sebagai antitesis dari salah satu realitas maya. 

Ketika di dunia maya, diskusi, atau lebih tepatnya debat, soal agama terasa begitu panas, realitas sesungguhnya menunjukan situasi berbeda. Kehidupan masyarakat tidak mencerminkan kegaduhan itu. Mereka menjalani kesehariannya dengan berbagai aktivitas tanpa mempertentangkan perbedaan.

Perayaan Natal di Bekasi pun berlangsung aman. Umat Kristiani merayakannya dengan suka cita. Begitu juga peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di masjid-masid dan pesantren, umat Muslim memperingatinya dengan hidmat.

Seorang pemikir postmodern pernah mengemukakan gagasan terkait kondisi seperti ini. Dimana, batas antara realitas sesungguhnya dengan realitas bentukan sudah semakin kabur. Tak hanya yang sekedar bergeser, tetapi juga yang sama sekali kemudian muncul sebagai realitas baru. 

Pada konteks ini, realitas maya ternyata telah menjadi realitas baru yang sama sekali berbeda dengan realitas sesungguhnya. Goncangan, jika bukan perpecahan, yang terjadi di dunia maya, ternyata sama sekali bukan cermin kondisi masyarakat sesungguhnya.

Hal itu, paling tidak, telah terbukti di Bekasi. Pelaksanaan dua hari besar Maulid Nabi Muhammad dan Natal berlangsung harmonis. Warga Bekasi berhasil hidup berdampingan di antara begitu banyak perbedaan. Menjunjung tinggi nilai kerukunan dan mengedepankan sikap toleran. (Red)

Twitter Facebook Google+

Editorial Lainnya